Tiga bulan terakhir, Ahmad Vahidi nyaris tak terlihat di ruang publik. Justru dari ketidakhadirannya itulah keputusan-keputusan paling keras Iran dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel lahir.
Vahidi, yang diangkat menjadi kepala Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Maret 2026, kini dipandang sebagai satu dari segelintir orang yang punya akses langsung ke Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Institute for the Study of War (ISW), lembaga pemikir berbasis di Washington, mencatat bahwa Vahidi dan lingkaran dalamnya tidak hanya mengendalikan operasi militer, tapi juga mendikte posisi Iran di meja perundingan.
Posisinya menguat setelah babak negosiasi di Pakistan pada April lalu bubar tanpa hasil. Sumber yang mengetahui jalannya proses tersebut mengungkapkan kepada Associated Press bahwa peran Vahidi melonjak drastis setelah kegagalan itu.
Hasilnya bisa dilihat dari sikap Teheran selama masa gencatan senjata: tetap menutup Selat Hormuz, menghajar fasilitas minyak dan infrastruktur negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia, sekaligus menolak mentah-mentah tuntutan Washington agar Iran berhenti memperkaya uranium. Pemblokiran Hormuz saja sudah cukup untuk membuat pasar energi global menegang. Krisis yang ditakutkan sejak perang pecah kini bukan lagi skenario.
Nama Vahidi bukan baru. Sejak 2007, ia masuk daftar merah Interpol, dituduh terlibat dalam pengeboman pusat komunitas Yahudi di Buenos Aires, Argentina, pada 1994, yang menewaskan 85 orang dan melukai ratusan lainnya. Sebelum menduduki puncak IRGC, ia sempat menjabat menteri pertahanan dan menteri dalam negeri Iran, dua jabatan yang tidak bisa disebut pinggiran.
Pengangkatannya menggantikan Jenderal Mohammad Pakpour, yang tewas dalam serangan di awal perang, agaknya tidak dibaca dengan tepat oleh Washington. Desimasi kepemimpinan militer Iran tidak otomatis memunculkan generasi komandan yang lebih lunak. Sebaliknya.
Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, menggambarkan Vahidi sebagai bagian dari sebuah sistem, bukan aktor tunggal. "Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan konsensus, dan tidak diragukan Vahidi memiliki suara yang sangat keras dalam ruang rapat," kata Vaez kepada CNN. Tapi dalam sistem seperti Iran, suara paling keras sering kali jadi suara terakhir.
Danny Citrinowicz, mantan kepala intelijen militer Israel, bahkan lebih lugas. Vahidi, katanya, "sangat dominan" dan "radikal", seseorang yang komitmennya pada prinsip-prinsip Revolusi Islam tidak perlu dipertanyakan. "Anda tidak bisa setuju pada sesuatu tanpa melalui persetujuannya," ujar Citrinowicz.
Soal kemungkinan perang berlanjut? Citrinowicz mengutip sikap sang jenderal: "Jika Trump menginginkan kembali berperang, silakan."
New York Times menyebut Vahidi sebagai "penghalang utama Trump menuju perdamaian." Klaim yang, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, masih harus diuji dalam dinamika perundingan yang terus bergerak, tapi sulit diabaikan begitu saja mengingat rekam jejaknya yang panjang dan konsisten.