Serpihan komponen mesin yang pecah di udara memicu rangkaian kejadian yang berakhir dengan pendaratan darurat. Itulah yang menimpa salah satu armada Ryanair pada Jumat (10/7), ketika penerbangan rute Thessaloniki-Memmingen tiba-tiba berubah menjadi situasi kritis begitu sebuah jendela di kabin copot saat pesawat sedang mengudara.
Puing dari mesin yang pecah menghantam panel jendela kabin hingga terlepas, memicu dekompresi di dalam pesawat. Masker oksigen jatuh otomatis dari langit-langit. Pilot memutar balik pesawat menuju Bandara Thessaloniki.
Satu penumpang cedera, diduga mereka yang duduk di area dekat jendela terdampak. Penanganan medis langsung diberikan begitu pesawat menyentuh landasan dengan selamat.
Pesawat yang terlibat adalah Boeing 737 Next Generation. Ryanair mengandalkan varian 737-800 sebagai tulang punggung armadanya, dengan konfigurasi satu kelas yang mampu mengangkut hingga 189 penumpang. Dua mesin CFM56 buatan CFM International menggerakkannya, salah satu dapur pacu paling umum di lini 737 NG. Dimensi fisiknya: panjang badan 39,5 meter, rentang sayap 35,8 meter, tinggi struktur 12,5 meter, dan kemampuan jelajah hingga 5.400 kilometer. Dirancang untuk rute pendek hingga menengah, persis seperti koridor Eropa yang jadi ladang utama maskapai asal Irlandia ini.
Insiden ini kini berada di meja regulator penerbangan. Investigasi difokuskan pada akar penyebab kerusakan mesin yang memicu lepasnya serpihan itu. Agaknya, pertanyaan terbesar buat penyidik adalah soal ini: kegagalan komponen yang terisolasi, atau ada pola yang lebih mengkhawatirkan?
737 NG sendiri adalah generasi sebelum 737 MAX yang belakangan lebih dikenal publik karena dua kecelakaan fatal dan penarikan sertifikasi terbang. Rekam jejaknya jauh lebih bersih. Itulah yang bikin insiden Ryanair ini tidak bisa begitu saja dianggap wajar. Keluarga 737 NG mencakup varian 600, 700, 800, dan 900, dengan seri 800 sebagai yang paling banyak mengisi langit Eropa.
Hasil investigasi penuh masih dinantikan. Kalau data awal bisa dipercaya, jawabannya ada pada kondisi mesin CFM56 yang diduga jadi biang kerok lepasnya puing itu.