SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jeffrey Sachs: Gencatan Senjata AS-Iran Dua Pekan...

Internasional

Jeffrey Sachs: Gencatan Senjata AS-Iran Dua Pekan Itu Titik Koma, Bukan Titik

Ekonom Columbia University Jeffrey Sachs memperingatkan bahwa gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran hanyalah jeda sementara, bukan solusi. Ia bahkan menyebut Modi, Xi, dan Putin sebagai satu-satunya pihak yang bisa mencegah eskalasi lebih lanjut.

Kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran tidak membuat Jeffrey Sachs bernapas lega. Bagi Direktur Pusat Pembangunan Berkelanjutan di Columbia University itu, jeda ini lebih menyerupai titik koma daripada titik.

"Tidak ada capaian nyata. Jalur pelayaran tetap terbuka seperti sebelumnya, dan struktur kekuasaan di Iran juga tidak berubah," ujarnya dalam wawancara di kanal CNBC-TV18. Konflik ini, kata Sachs, dibangun di atas asumsi keliru sejak awal: keyakinan bahwa tekanan militer kilat bisa merombak tatanan kekuasaan di Teheran. Terbukti tidak realistis.

Sama sekali tidak.

Yang membuat pernyataannya lebih menggigit adalah soal siapa yang ia anggap mampu menghentikan eskalasi. Bukan Washington. Dalam program New Order di RT, Sachs menyebut tiga nama: Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ketiganya ia sebut sebagai satu-satunya "orang dewasa" yang tersisa dalam konstelasi geopolitik saat ini, sementara negara-negara Barat ia nilai tidak lebih dari satelit kepentingan Amerika.

Klaim yang kontroversial. Tapi bukan tanpa konteks.

Sachs sudah lama berargumen bahwa dunia bergerak ke tatanan multipolar, di mana tidak ada satu kekuatan tunggal yang bisa mendiktekan arah. Washington, ia nilai, belum sepenuhnya menelan kenyataan itu. Pendekatan berbasis gertakan militer dan retorika keras sudah tumpul dalam peta kekuatan global yang terus bergeser, ibarat pedang yang dipakai ke pertarungan yang sudah berganti aturan.

Di lapangan, situasinya tidak sederhana. Israel dan AS terus membombardir Iran, sementara rudal-rudal Iran memaksa jutaan warga Israel berlindung di bunker. Jajak pendapat di Israel sendiri menunjukkan dukungan publik terhadap perang mulai meredup. Sinyal yang patut dicermati siapa pun yang mengikuti dinamika politik domestik Tel Aviv, dan agaknya Sachs pun tidak melewatkan itu.

Ia menyoroti proposal 10 poin yang diajukan Iran sebagai kerangka negosiasi. Poin-poinnya mencakup penghentian agresi, pengurangan kehadiran militer asing di kawasan Teluk, hingga upaya menghentikan konflik regional secara menyeluruh. Kalau benar dijalankan, bukan cuma kawasan yang diuntungkan, stabilitas pasar energi global juga ikut terdampak.

Selat Hormuz tetap jadi variabel paling krusial. Tegas Sachs soal ini: tidak ada solusi militer cepat untuk merebut kendali atas jalur itu. "Upaya menguasai Selat Hormuz secara paksa berisiko memicu konflik skala penuh," katanya. Iran paham betul nilai tawar yang mereka genggam di sana, entah kebetulan atau tidak, itu juga yang membuat mereka tetap punya kartu di meja perundingan.

Gencatan senjata yang ada pun ia nilai sangat rapuh. Sabotase atau pelanggaran sewaktu-waktu bisa menyulut ulang konflik. Meski begitu, jeda dua pekan ini ia sebut sebagai peluang yang tidak boleh disia-siakan. "Ini adalah kesempatan untuk menghindari konflik yang lebih besar. Dunia perlu memastikan momentum ini tidak hilang," tambahnya.

Pertanyaannya: apakah Modi, Xi, dan Putin memang punya niat dan kapasitas konkret untuk turun tangan? Atau ini sekadar harapan seorang ekonom yang frustrasi melihat Washington terus memilih jalan lama?