Beli ponsel di 2026 ternyata lebih rumit dari yang terlihat.
Label "mid-range" di etalase bukan lagi jaminan bahwa perangkat yang kamu bawa pulang siap menemani dua atau tiga tahun ke depan. Banyak vendor masih memanfaatkan stok chipset lama untuk menekan biaya produksi, dan hasilnya: harga terlihat menggoda, tapi pengalaman pakainya mengecewakan lebih cepat dari yang seharusnya. Pengamat teknologi kini kompak mengingatkan konsumen untuk menggali lebih dalam ke dapur pacu sebelum memutuskan beli.
Yang paling mencolok: chipset fabrikasi 12 nm. MediaTek Helio G96, G88, G80, sampai G91 Ultra semuanya masih beredar dan bisa ditemukan di ponsel harga Rp1 jutaan hingga Rp2 jutaan. Di atas kertas, nama "G96" terdengar kencang. Faktanya, benchmark menunjukkan chipset ini tertinggal jauh dari Snapdragon 6 Gen 1 yang memakai fabrikasi 4 nm, bahkan kalah dari Snapdragon 685 yang bermain di 6 nm. Skor AnTuTu-nya berkutat di kisaran 400.000 hingga 450.000. Tidak besar.
Fabrikasi 12 nm berarti manajemen suhu yang buruk dan efisiensi daya yang payah. Pengguna di forum internasional banyak mengeluhkan chipset ini overheat saat main game, FPS drop yang bikin frustrasi, sampai baterai yang terkuras lebih cepat dari ekspektasi. Bukan sekadar "kurang cepat", tapi aktif mengganggu penggunaan harian.
Snapdragon 732G dirilis September 2020. Usianya sudah lewat lima tahun. Fabrikasi 8 nm, tanpa 5G, skor AnTuTu v11 sekitar 500.000. Di saat operator di berbagai negara terus mendorong migrasi ke jaringan generasi baru, membeli ponsel dengan chipset ini sama saja mengunci diri di 4G LTE seumur pakai.
Dimensity 700 kasusnya agak berbeda, tapi tidak kalah menjebak. Ada 5G-nya, yang membuatnya terlihat relevan. Tapi GPU Mali-G57 MC2 yang dibawanya lemah untuk standar 2026: perekaman video mentok di 2K 30 FPS saat kebanyakan chipset keluaran 2024 ke atas sudah menawarkan 4K. Skor AnTuTu-nya pun mirip Helio G99 yang lebih efisien, tapi harganya sering lebih mahal karena embel-embel 5G. Bayar harga premium, dapat performa standar.
Snapdragon 695 sekilas terlihat aman karena fabrikasi 6 nm. Tapi chipset ini tidak mendukung Wi-Fi 6E, perekaman video hanya sampai 1080p 60 FPS, dan pengguna di OnePlus Community melaporkan baterai yang boros saat gaming serta thermal throttling yang muncul bahkan ketika sekadar scrolling Instagram.
Lalu ada Exynos 1280 dari Samsung. Yang paling kontroversial. Di atas kertas chipset ini kompetitif: fabrikasi 5 nm, CPU Cortex-A78 @2,4 GHz, GPU Mali-G68 MP4, mendukung video 4K 30 FPS, skor AnTuTu sekitar 600.000. Tapi forum resmi Samsung dihajar keluhan pengguna Galaxy A33 dan A53, mulai dari panas berlebih saat browsing biasa, thermal throttling, sampai baterai yang cepat habis. Benchmark-nya setara Snapdragon 695 meski fabrikasinya lebih canggih. Pertanda optimasi Samsung yang belum matang.
Di luar chipset, ada beberapa spesifikasi lain yang patut dicermati, kalau data lapangan ini bisa dijadikan patokan. Penyimpanan eMMC di ponsel Rp1 jutaan kini dinilai terlalu lambat; UFS sudah mulai umum bahkan di kelas menengah seperti Helio G99. Wi-Fi 4 di ponsel Rp2 juta ke atas tidak lagi memadai untuk modem ISP modern. Panel IPS di harga Rp3 juta ke atas sebaiknya dilewati, karena AMOLED lebih efisien daya dan mendukung fingerprint in-display. Kapasitas baterai di bawah 5.000 mAh pun semakin sulit dibenarkan, apalagi dengan munculnya teknologi Silicon-Carbon yang memungkinkan kapasitas 6.000 hingga 7.000 mAh dalam bodi yang tidak lebih tebal.
Standar mid-range 2026 sudah naik. Chipset ideal semestinya sudah di fabrikasi 6 nm atau lebih kecil, mendukung 5G penuh, clock speed minimal 2,4 GHz, GPU modern Adreno 7xx atau Mali-G610 ke atas, RAM LPDDR5. Beberapa nama yang disebut relevan: Snapdragon 7+ Gen 3, Dimensity 8300, Dimensity 8400, dan Google Tensor G4 untuk ekosistem Pixel.
Kabar baiknya, chipset-chipset ini tidak lagi identik dengan harga selangit. Di kisaran Rp2 juta hingga Rp4 juta, konsumen sudah bisa mendapatkan fabrikasi 4 nm atau 6 nm yang layak.
Sudah cukup teliti belum sebelum klik "beli"?