Satu Juli 2026 jadi tanggal cukup padat buat JBL Indonesia. Di JBL Official Store AEON BSD, perusahaan audio milik Harman ini memperkenalkan tiga headset gaming sekaligus merilis pembaruan besar platform perangkat lunaknya, semua dibungkus dalam satu kampanye bertajuk #SoundIsSurvival.
Tiga headset yang masuk lini JBL Quantum: Quantum 250, Quantum 650, dan Quantum 950. Ketiganya hadir dengan pendekatan desain modular yang agaknya jadi respons atas pergeseran profil pengguna. Bukan lagi sekadar atlet esports yang duduk berjam-jam di depan layar. Kini pembelinya bisa jadi pekerja kantoran yang butuh headset untuk rapat daring, mahasiswa yang ingin musik menemani perjalanan, atau siapa pun yang sesekali nge-game setelah capek seharian.
Desain modular itu bukan gimmick. Pengguna bisa mengganti mikrofon, bantalan telinga, kabel, sampai headband secara mandiri. Mikrofon yang bisa dilepas membuat perangkat fleksibel berpindah fungsi dari sesi ranked di game FPS ke video call dengan klien, tanpa perlu ganti perangkat.
Yang lebih layak dicermati justru pembaruan JBL QuantumENGINE-nya. Platform ini dirancang ulang dari antarmuka hingga fiturnya, mendukung Windows 10 ke atas dan macOS 11 ke atas. Tampilannya lebih ramping, satu dasbor yang mencakup konfigurasi headset, manajemen profil, pengaturan pencahayaan, hingga fitur drag-and-drop untuk prioritas fitur. Koneksi multi-perangkat via Aux, USB, maupun nirkabel tertangani dari satu tempat.
Tiga fitur unggulan pembaruan ini perlu disebut satu per satu. Pertama, Quantum Spatial Sound: teknologi audio spasial yang diklaim mampu membantu pemain mendeteksi posisi lawan, suara langkah kaki, hingga detail lingkungan secara real-time dengan visualisasi in-game. Kedua, AI-powered Noise Reduction yang menyaring suara ketikan keyboard agar komunikasi tim tetap jernih. Ketiga, Smart EQ dengan preset yang sudah dikurasi untuk genre spesifik, mulai FPS, MOBA, sampai RPG, sekaligus memudahkan transisi antara mode game dan musik.
Grace Koh, General Manager dan Vice President Consumer Audio Harman Asia Pacific, menyebut pembaruan ini lahir dari masukan langsung komunitas gamer. "Kami mendengar masukan dari komunitas dan mendesain ulang JBL QuantumENGINE untuk satu tujuan: imersi tingkat lanjut dan kustomisasi total. Dengan JBL Quantum Spatial Sound yang kini terintegrasi di seluruh rangkaian JBL Quantum, kami menghadirkan audio spasial sekelas profesional bagi setiap gamer, apa pun budget-nya," ujar Grace.
Klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan. Kalau data spesifikasi ini bisa dipercaya, JBL tampaknya serius membidik celah pasar yang selama ini kurang tersentuh: gamer yang tidak mau perangkat gaming-nya terasa kaku dan hanya bisa dipakai di depan PC.
Kampanye #SoundIsSurvival lebih dari sekadar tagline. Ini pernyataan positioning. JBL ingin gaming dipandang sebagai bagian dari gaya hidup yang inklusif, bukan arena eksklusif para pemain kompetitif. Entah bakal menggeser persepsi pasar atau tidak, yang pasti tiga headset baru ini sudah antre masuk etalase.