KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jalur Kereta China Jadi Sandaran Iran Tembus Kepun...

Internasional

Jalur Kereta China Jadi Sandaran Iran Tembus Kepungan Laut AS

Sejak blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz dimulai 13 April 2026, Iran kini mengandalkan jalur kereta api dari Xi'an, China, sebagai urat nadi logistik alternatif, meski kapasitasnya jauh dari cukup untuk menggantikan jalur laut.

Satu kereta per minggu. Itu frekuensi kereta barang dari Xi'an, China, menuju Teheran sebelum perang pecah. Kini, sejak blokade angkatan laut AS resmi berjalan pada 13 April 2026, frekuensinya melompat ke satu kereta setiap tiga atau empat hari.

Lonjakan itu mencerminkan betapa paniknya Teheran mencari jalan keluar dari kepungan maritim yang memutus sebagian besar ekspor minyak sekaligus impor biji-bijian yang Iran butuhkan. Dengan pelabuhan-pelabuhan utama praktis terputus, jalur darat melalui Kazakhstan dan Turkmenistan menjadi satu dari sedikit koridor yang masih bisa diandalkan.

Harganya tidak murah. Biaya pengiriman satu kontainer standar 40 kaki di rute Xi'an-Teheran kini ditawarkan sekitar USD 7.000, naik sekitar 40 persen dari tarif normal sebelum blokade. Bukan angka kecil, terutama ketika rial Iran terus tergerus ke level terendah baru terhadap dolar dan tekanan inflasi sudah mulai terasa sampai tingkat rumah tangga.

Muatan yang mengalir masuk ke Iran lewat jalur ini mayoritas barang-barang industri dan konsumsi, mulai dari suku cadang otomotif, generator, hingga elektronik. Ekspor dari sisi Iran masih minim, meski pejabat di Teheran sudah mulai menghitung kemungkinan menggunakan rel ini untuk mengangkut petrokimia dan bahan bakar ke luar negeri di kemudian hari.

Altan Dursun, Direktur Pelaksana Silkroad-Avrasya Multimodal Logistics, agen pemesanan kargo yang fokus di perdagangan koridor China, menyaksikan perubahan yang cukup drastis. "Sebelumnya, kereta-kereta ini sama sekali tidak beroperasi selama beberapa minggu. Sekarang sudah penuh dipesan untuk bulan Mei," kata Dursun, yang juga tengah merencanakan penambahan kapasitas untuk Juni.

Ada batas terang-terangan dari solusi ini. Setiap rangkaian kereta dari Xi'an mengangkut sekitar 50 kontainer berukuran 40 kaki. Bandingkan dengan kapal kontainer laut yang mampu menampung ribuan kontainer sekali jalan. Kapasitas rel, betapapun dilipatgandakan, tidak akan pernah benar-benar menambal lubang yang ditinggalkan jalur laut. Tidak akan pernah.

Iran agaknya paham ini bukan peluru perak. Teheran sudah bertahun-tahun merajut jaringan koridor darat alternatif, sebagian karena antisipasi terhadap tekanan Barat yang memang bukan barang baru. Jalur utara-selatan yang menghubungkan Iran dengan Rusia tengah dalam tahap komitmen investasi miliaran dolar. Ada pula jalur kereta Khaf-Herat sepanjang 225 kilometer yang menghubungkan Iran timur laut dengan Herat di Afghanistan, rute yang sejak Oktober lalu sudah dipakai untuk mengekspor solar ke Afghanistan.

Oh, dan dari Istanbul pun datang sinyal serupa. Permintaan truk dari Turki meningkat sejak blokade dimulai, dengan sebagian besar muatan baru berisi makanan dan minyak bunga matahari.

Semua ini kian memperdalam ketergantungan Iran pada China, mitra yang sudah membeli hampir seluruh minyak Iran bahkan sebelum perang meletus. Beijing sendiri posisinya hati-hati, bak pemain catur yang tidak mau kehilangan dua bidak sekaligus. China berulang kali menyerukan gencatan senjata dan membantah mengirim senjata ke Teheran. Pada saat bersamaan, Beijing harus menjaga hubungan dengan negara-negara Teluk yang sudah menjadi tuan rumah investasi dan proyek konstruksi China senilai sekitar USD 270 miliar dalam dua dekade terakhir.

Pertanyaannya, sampai kapan Beijing bisa terus menyeimbangkan dua kepentingan yang makin lama makin bertolak belakang ini?

Ketegangan diplomatik itu berlangsung menjelang pertemuan Trump-Xi pekan depan, sebuah momen yang kalau data geopolitik ini bisa dipercaya, bisa jadi titik balik arah tekanan terhadap Iran dari sisi Beijing.

Di dalam negeri, Presiden Masoud Pezeshkian sudah mulai menyentil para pedagang yang dianggap menimbun barang dan mencari untung di tengah krisis. Janji tindakan keras terhadap "pelanggaran yang mengganggu perdamaian masyarakat" terdengar familiar. Respons klasik pemerintah yang mulai kehabisan opsi ekonomi. Depresiasi rial yang cepat pernah memicu protes mematikan pada Januari lalu, dan ancaman serupa belum hilang.

Jalur kereta memang hidup dan mulai sibuk. Tapi apakah itu cukup untuk menahan Iran dari tekanan yang terus menggulung? Belum ada yang tahu.