MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jalan Buntu Iran-AS: Pezeshkian Lapor Putin, Teher...

Internasional

Jalan Buntu Iran-AS: Pezeshkian Lapor Putin, Teheran Tuduh Washington Terapkan Standar Ganda

Presiden Iran Masoud Pezeshkian melaporkan kebuntuan negosiasi dengan AS kepada Vladimir Putin, menuding Washington terapkan standar ganda dan berusaha mendominasi proses perundingan yang dimediasi Pakistan.

Presiden Pezeshkian Ngadu ke Putin, Kenapa Iran dan AS Tak Kunjung Berdamai - News+ on RCTI+

Telepon dari Teheran ke Moskow itu bukan sekadar basa-basi diplomatik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghubungi Vladimir Putin untuk menyampaikan satu pesan yang cukup gamblang: negosiasi damai dengan Amerika Serikat kembali mandek, dan Teheran menunjuk Washington sebagai biang keladinya.

Dalam percakapan itu, Pezeshkian menyebut AS menerapkan standar ganda dan berupaya mendominasi meja perundingan yang selama ini difasilitasi Pakistan. Itulah yang, menurut Teheran, membuat kerangka kesepakatan yang sempat muncul pada Juni lalu tak berkembang menjadi perdamaian nyata. "Garis merah kami adalah kepentingan nasional Iran dan hak-hak rakyatnya," tegas Pezeshkian kepada Putin, sebagaimana dikutip kantor kepresidenan Iran.

Konflik ini bermula dari perang yang pecah 28 Februari 2026. Pakistan lantas mengambil peran mediator, membantu kedua pihak membuka jalur komunikasi yang sempat menghasilkan kerangka awal di bulan Juni. Kebuntuan kembali datang. Kedua pihak masih berhadap-hadapan, posisi masing-masing nyaris tak bergeser.

Sumber deadlock-nya agaknya cukup konkret: soal pengayaan uranium. Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka menyatakan Washington menginginkan Iran memangkas kapasitas pengayaannya secara drastis sebagai syarat penyelesaian konflik. Teheran menolak mentah-mentah. Bagi Iran, hak pengayaan uranium bukan sekadar posisi runding, melainkan garis merah yang tidak bisa ditawar siapa pun.

Blokade militer AS yang mencekik ekonomi Iran turut menjadi tekanan tersendiri bagi Teheran. Kemampuan finansial Iran tergerus, meski posisi resmi pemerintah tetap kukuh menolak konsesi yang dianggap merendahkan kedaulatan. Bisa jadi tekanan ekonomi inilah yang justru membuat Teheran makin keras di meja perundingan, bukan makin lunak.

Putin tak hanya mendengarkan. Presiden Rusia itu menegaskan dukungan Moskow terhadap jalur diplomatik, sekaligus mendesak AS memenuhi kewajiban kompensasi atas kerusakan selama perang. Jaminan keamanan jangka panjang bagi Iran, kata Putin, juga harus masuk paket penyelesaian konflik. Bukan sekadar janji lisan.

Pezeshkian juga menyinggung negara-negara Teluk. Nada bicaranya campuran antara persaudaraan dan kecewa: Iran menganggap mereka saudara, tetapi menyesalkan wilayah mereka dijadikan pangkalan militer AS yang kemudian dipakai untuk menghajar Iran. Pernyataan itu bukan tanpa kalkulasi, mengingat dinamika kawasan yang kian rumit seiring perang yang belum juga usai.

Kedua pemimpin menutup pembicaraan dengan menegaskan kembali komitmen pada Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif Iran-Rusia yang ditandatangani Januari 2025, mencakup kerja sama perdagangan, energi, transportasi, hingga keamanan. Koordinasi di forum internasional juga akan diperkuat.

Pertanyaannya sekarang sederhana: sampai kapan Pakistan sanggup menjaga meja perundingan ini tetap hidup, kalau dua belah pihak masih sama-sama enggan bergerak dari posisi masing-masing?