JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jakarta Masuk 15 Besar Transportasi Terbaik Dunia,...

Internasional

Jakarta Masuk 15 Besar Transportasi Terbaik Dunia, Nomor Dua di ASEAN

Ibu kota Indonesia menduduki peringkat ke-15 dalam daftar kota dengan transportasi publik terbaik dunia 2026 versi Time Out, naik dua peringkat dari laporan sebelumnya dengan skor kepuasan warga 79,2 persen.

Jakarta Masuk 20 Besar Transportasi Umum Terbaik Dunia

Sepanjang bertahun-tahun jadi bahan keluhan warga, transportasi publik Jakarta kini mendapat pengakuan di panggung global. Majalah perjalanan Time Out menempatkan ibu kota Indonesia di posisi ke-15 dalam daftar 20 kota dengan layanan angkutan umum terbaik dunia 2026, naik dua peringkat dibandingkan edisi sebelumnya. Capaian ini sekaligus menjadikan Jakarta sebagai kota Asia Tenggara terbaik kedua dalam daftar tersebut, persis di bawah Singapura.

Pemeringkatan yang dipublikasikan Time Out pada 13 Oktober 2026 itu didasarkan pada survei tahunan yang melibatkan lebih dari 24.000 warga dari kota-kota di seluruh dunia. Responden diminta menilai kualitas transportasi publik di kota mereka, mulai dari bus, kereta, hingga trem, menggunakan skala satu sampai lima. Peringkat akhir ditentukan dari persentase warga yang memberi nilai "baik" atau "sangat baik". Bukan soal kapasitas infrastruktur atau data teknis, melainkan murni persepsi pengguna.

Dengan metode itu, Jakarta mencatat skor kepuasan 79,2 persen. Lumayan, tapi terpaut jauh dari dua kota teratas. Taipei bertengger di puncak dengan 95 persen, ditopang MRT-nya yang terkenal bersih, tepat waktu, dan tertib. Singapura menyusul di posisi kedua dengan 93,5 persen, didukung jaringan MRT yang mencakup 146 stasiun dan melayani sekitar 3,5 juta perjalanan setiap hari. Hong Kong di posisi ketiga membukukan 92,8 persen.

Transportasi publik Jakarta sendiri kini ditopang banyak tulang punggung: Transjakarta, MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, hingga Kereta Bandara. Pekerjaan rumah yang tersisa, memastikan semua moda itu tersambung tanpa gesekan bagi penumpang yang berpindah setiap hari.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung agaknya sadar betul soal itu. Pada Juni 2026, ia mencanangkan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas, infrastruktur yang dirancang untuk memperkuat konektivitas enam moda transportasi sekaligus. Proyek ini ditargetkan rampung akhir 2028. Bisa jadi uji nyata, apakah integrasi antarmoda Jakarta bisa benar-benar dirasakan warga sehari-hari atau sekadar narasi di siaran pers.

Peringkat ke-15 ini patut diapresiasi, tapi juga perlu dibaca dengan kritis. Skor kepuasan berbasis persepsi warga rentan dipengaruhi ekspektasi awal pengguna, kebiasaan bertransportasi, dan seberapa sering mereka membandingkan dengan kota lain. Jakarta yang dulu identik dengan kemacetan dan sistem angkutan yang carut-marut tentu punya baseline ekspektasi yang berbeda dibanding Taipei atau Tokyo, kalau data ini bisa dipercaya sebagai perbandingan yang setara.

Tantangan nyata belum berakhir. Akses menuju halte dan stasiun yang kerap menyulitkan, ketepatan waktu yang belum konsisten, kenyamanan di jam sibuk yang jauh dari ideal. Peringkat global boleh jadi modal psikologis yang berharga, tapi warga yang tiap pagi berdesakan di peron KRL tentu punya tolok ukur tersendiri soal apa artinya "transportasi terbaik".