Dari 153 pasar tradisional yang kini sepenuhnya menerima QRIS, hingga 422.000 UMKM yang sudah onboard ke sistem pembayaran digital, Jakarta agaknya sedang membuktikan sesuatu yang lebih dari sekadar klaim branding kota global.
Gubernur Jakarta Pramono Anung membeberkan angka yang cukup mencolok di pembukaan Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 di Istora Senayan, Sabtu (4/7): transaksi QRIS dari Jakarta sudah menyumbang 38% dari total transaksi QRIS secara nasional. Proporsi yang tidak kecil, mengingat Indonesia punya ribuan kota dan kabupaten.
Pramono mengaitkan capaian itu dengan kontribusi Jakarta terhadap PDB nasional yang mencapai 16,67% pada triwulan I/2026. Dominasi QRIS Jakarta, klaimnya, bukan terjadi begitu saja, melainkan hasil sinergi tiga pihak: Pemprov, Bank Indonesia, dan OJK yang bersama-sama mendorong digitalisasi pembayaran, khususnya di sektor perdagangan. "Mudah-mudahan UMKM yang sekarang ini sudah menggunakan QRIS, kurang lebih 422.000, ini volumenya bisa lebih besar," harapnya.
JKF 2026 dijadikan salah satu instrumen konkret untuk membuktikan tesis itu. Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan memasang target transaksi Rp40 miliar selama festival berlangsung, 4-5 Juli. Meningkat pesat dari realisasi tahun lalu, meski Iwan mengaku lupa angka pastinya. "Seingat saya, target untuk tahun ini sekitar 40 miliar transaksi. Tahun lalu saya lupa. Ya, artinya ini meningkat sangat pesat," ujarnya.
Optimisme Iwan bukan tanpa dasar. Dari sisi kunjungan, dia memproyeksikan lonjakan 4 hingga 5 kali lipat dibanding perhelatan sebelumnya, semata berdasarkan pengamatan visual di hari pertama. Festival tahun ini menghadirkan 377 tenant: 290 pelaku UMKM di sektor kuliner, fesyen, dan kriya, ditambah 87 tenant layanan, edukasi, dan komunitas. Tidak kurang dari 67 kementerian, lembaga, pemda, asosiasi, dan pelaku industri terlibat. Angka yang tidak main-main.
Bukan sekadar bazar. JKF 2026 mengintegrasikan sejumlah program yang jarang hadir bersamaan dalam satu festival: business matching, QRIS Jelajah Indonesia, edukasi kebanksentralan, pengembangan ekonomi syariah, hingga isu ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Tiga sektor kreatif yang jadi fokus pengembangan adalah olahraga, musik, dan film.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan bank sentral menjadi variabel penting. "Jakarta Kreatif Festival menjadi bukti bahwa pengembangan UMKM dan percepatan digitalisasi sistem pembayaran dapat berjalan beriringan untuk mendorong sektor riil serta meningkatkan produktivitas ekonomi DKI Jakarta," ucap Filianingsih.
Pramono menyebut ekonomi kreatif kini menjadi tumpuan baru pertumbuhan Jakarta, berdampingan dengan sektor perdagangan dan jasa. Ketiganya, klaimnya, punya potensi besar menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan mendongkrak daya saing Jakarta di level nasional maupun global. Klaim yang masih perlu dibuktikan dengan angka realisasi investasi, tapi setidaknya arah kebijakannya terbaca jelas.
Target Rp40 miliar dalam dua hari festival mungkin terdengar ambisius. Tapi kalau kota ini sudah menguasai lebih dari sepertiga transaksi digital nasional, bisa jadi angka itu justru terlalu konservatif.