SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  J-35 Masuk Produksi Serial, Jet Tanpa Ekor China V...

Internasional

J-35 Masuk Produksi Serial, Jet Tanpa Ekor China Validasi Manuver Ekstrem

Dalam rentang waktu yang nyaris bersamaan, China memamerkan dua lompatan besar industri militernya: produksi serial J-35 yang kini menyentuh unit ke-30, dan prototipe jet tempur generasi keenam tanpa ekor yang berhasil menuntaskan manuver ekstrem yang sebelumnya dianggap mustahil.

China's New J-35A Stealth Fighter Jet Is a Challenge to the U.S.

Dua kabar dari industri dirgantara militer China datang hampir bersamaan. Keduanya, kalau data ini bisa dipercaya, cukup untuk memaksa perencana pertahanan Barat menghitung ulang.

Unit ke-30 jet tempur siluman J-35 sudah keluar dari fasilitas perakitan Shenyang Aircraft Corporation. Nomor seri 350030 yang tertera di badan pesawat jadi penanda konkret: produksi bukan lagi fase uji coba, melainkan sudah masuk ritme serial penuh. Media pemerintah China merilis rekaman proses perakitan dari pabrik baru Shenyang, memperlihatkan lini produksi yang agaknya berjalan lebih efisien dari yang banyak analis perkirakan.

Dengan J-35 diproduksi bersama J-20, China resmi menjadi satu-satunya negara di dunia yang menjalankan produksi serial dua jenis jet tempur generasi kelima secara bersamaan. Di luar China, hanya ada F-35 buatan Amerika Serikat dan Su-57 besutan Rusia yang masuk kategori serupa, itupun dengan volume dan kecepatan produksi yang jauh berbeda.

J-35 bukan kembaran J-20. Jangkauannya lebih pendek, tata letaknya konvensional. Bukan kelemahan, ini pilihan sadar. Pesawat ini dirancang lebih ringkas dari sisi operasional, cocok untuk kapal induk maupun pangkalan darat dengan rantai logistik yang lebih ramping. Wang Yongqing, Kepala Ahli Institut Desain dan Penelitian Pesawat Shenyang, menyatakan model pengembangan berbasis platform bersama ini "secara signifikan mengurangi biaya dan waktu pengembangan." Dalam pernyataan terpisah, ia menambahkan bahwa standardisasi sensor, avionik, dan sistem internal antara J-35 dan varian lainnya memungkinkan angkatan laut dan udara China memangkas rantai pasokan logistik secara nyata.

Soal kemampuan siluman, klaim yang beredar cukup berani. Penampang radar J-35 diklaim tidak lebih besar dari telapak tangan manusia, setara ukuran burung pipit, kombinasi antara desain aerodinamis dan material metamaterial canggih. Angka itu menempatkan J-35 setara dengan seri produksi terbaru J-20 dan F-35. Setidaknya begitu klaim manajemen program, yang masih perlu dibuktikan dalam kondisi operasional nyata.

Dari Chengdu, kabar yang satu level lebih jauh. Rekaman terbaru memperlihatkan prototipe jet tempur generasi keenam tanpa ekor buatan Chengdu Aircraft Corporation berhasil mengeksekusi manuver high-alpha climbing turn, yakni manuver bermuatan G-Force tinggi saat menanjak. Sesuatu yang sebelumnya diragukan bisa dilakukan jet tanpa sirip ekor vertikal maupun horizontal.

Ini bukan detail kecil. Konfigurasi tanpa ekor memang ideal untuk meminimalkan Radar Cross-Section dari segala penjuru, tapi ia menciptakan instabilitas inheren yang brutal, terutama saat dogfight atau manuver ekstrem di kecepatan rendah. Masif tantangannya. Tanpa bidang kendali konvensional, pesawat ini sepenuhnya bergantung pada sistem Fly-by-Wire digital mutakhir, multi-axis thrust vectoring, dan split-elevons di sayap untuk menjaga kendali arah. Bahwa manuver itu berhasil dieksekusi oleh jet bermesin tiga berukuran besar ini menjadi validasi empiris pertama, China membuktikan penguasaan teknologi kendali untuk konfigurasi tailless.

Penerbangan perdana jet ini berlangsung 26 Desember 2024. Empat unit prototipe sudah diproduksi hingga kini, sementara Beijing dilaporkan tengah menguji tiga varian tanpa ekor secara paralel. Rancangan Chengdu memegang skala dimensi terbesar di antara ketiganya.

Proyeksi entry into service jet generasi keenam China adalah awal 2030-an. Pertanyaannya, berapa lama selisih itu bertahan? F-47 Amerika Serikat, kandidat jet generasi keenam Washington, dijadwalkan baru muncul di awal 2040-an. Selisih satu dekade, kalau proyeksi di kedua sisi tidak meleset, adalah angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja.