KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Ivanka Trump Jadi Target Pembunuhan Agen IRGC, Mot...

Internasional

Ivanka Trump Jadi Target Pembunuhan Agen IRGC, Motif Balas Dendam Soleimani

Seorang warga negara Irak berusia 32 tahun yang terhubung dengan Korps Garda Revolusi Iran ditangkap di Turki setelah diduga menyimpan denah rumah Ivanka Trump di Florida dan merencanakan pembunuhannya.

Putri Donald Trump jadi Target Pembunuhan Seseorang yang Terkait IRGC

Mohammad Baqer Saad Dawood Al-Saadi (32), warga negara Irak yang disebut punya keterkaitan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), kini mendekam di Pusat Penahanan Metropolitan Brooklyn setelah diekstradisi dari Turki pada pertengahan Mei ini. Pria itu diduga menyimpan denah rumah Ivanka Trump di Florida dan secara terbuka menyatakan niatnya membunuh putri Presiden AS Donald Trump, sebagai balas dendam atas tewasnya Jenderal Qasem Soleimani enam tahun lalu.

Al-Saadi ditangkap di Turki pada 15 Mei, lalu diekstradisi ke Amerika Serikat dan langsung berhadapan dengan dakwaan federal yang tebalnya bukan main: 18 serangan dan percobaan serangan di Eropa dan di dalam negeri AS sendiri. Departemen Kehakiman AS mendakwanya terlibat dalam rentetan insiden yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, di antaranya pembakaran Bank of New York Mellon di Amsterdam pada Maret, penusukan dua korban Yahudi di London pada April, penembakan di gedung konsulat AS di Toronto juga pada Maret, hingga pemboman sinagoge di Liège, Belgia, dan pembakaran sebuah kuil di Rotterdam.

Soal motif, Entifadh Qanbar, mantan wakil atase militer Kedutaan Irak di Washington, menggambarkan bagaimana Al-Saadi bereaksi setelah serangan drone AS yang menewaskan Soleimani di Baghdad pada 2020. "Setelah Qasem terbunuh, dia berkeliling memberi tahu orang-orang, kita perlu membunuh Ivanka untuk membakar rumah Trump seperti dia membakar rumah kita," ungkap Qanbar kepada New York Post. Al-Saadi bahkan sempat mengunggah foto peta kawasan Florida, tempat Ivanka dan suaminya Jared Kushner bermukim, di platform X.

Keterkaitannya dengan IRGC bukan sekadar asumsi. Elizabeth Tsurkov, Senior Fellow di New Lines Institute yang berbasis di Washington DC, menyebutnya sebagai figur berpangkat dalam lingkaran teror Irak-Iran, dengan koneksi personal yang cukup dalam ke Soleimani sendiri. Al-Saadi rupanya menganggap sang jenderal sebagai figur ayah, bisa jadi karena ayah kandungnya, Ahmad Kazemi, seorang brigadir jenderal Iran, tewas pada 2006. Ia dibesarkan di Baghdad dan pernah dikirim ke Teheran untuk menjalani pelatihan langsung dengan IRGC. Setelah Soleimani terbunuh, Al-Saadi diklaim tetap memelihara hubungan dekat dengan penggantinya, Brigadir Jenderal Esmail Qaani, yang disebut Tsurkov terus menyuplai sumber daya untuk jaringannya. Dakwaan federal pun memuat foto Al-Saadi sedang berkonsultasi dengan Soleimani di apa yang tampak seperti fasilitas militer.

Reaksi di Washington datang cepat. Anggota Kongres Anna Paulina Luna mengecam keras ancaman ini lewat unggahan di X: "Kami baru saja mengetahui rencana mengerikan untuk membunuh Ivanka Trump, seorang istri, putri, ibu yang setia, dan seseorang yang tidak memiliki masalah pribadi dengan rezim Iran." Aktivis konservatif Mike Davis menyindirnya dengan nada sarkastik: "Kecuali Anda memiliki pesawat pembom siluman sendiri, mungkin merencanakan pembunuhan putri presiden adalah ide yang buruk."

Trump sendiri belum buka suara. Entah disengaja, entah sedang ditangani lewat jalur yang tidak konsumsi publik. Yang jelas, Al-Saadi kini berbagi fasilitas penahanan yang sama dengan nama-nama kelas berat, termasuk Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sambil menunggu proses hukum yang, mengingat tebalnya lembar dakwaan, kemungkinan akan berlangsung panjang.