Gencatan senjata belum genap seminggu, Israel sudah menerbitkan peta.
Militer Israel untuk pertama kalinya merilis dokumen kartografis yang menampilkan garis penempatan pasukan mereka di Lebanon Selatan. Puluhan desa langsung masuk wilayah kendali Tel Aviv. Bukan prosedur administratif biasa. Ini pernyataan posisi.
Peta itu muncul beberapa hari setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku sejak Jumat (17/4/2026), kesepakatan yang dimediasi Washington untuk menghentikan pertempuran sengit dengan kelompok Hizbullah. Presiden AS Donald Trump sendiri, pada hari yang sama, menyatakan bahwa Washington telah melarang Israel melanjutkan pengeboman di Lebanon.
Di lapangan, nadanya lain.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa ia bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan tentara "untuk bertindak dengan kekuatan penuh, baik di darat maupun dari udara, termasuk selama gencatan senjata, untuk melindungi tentara kita di Lebanon dari ancaman apa pun." Katz juga memerintahkan penghancuran setiap bangunan atau jalan yang dipasangi ranjau, serta menyingkirkan rumah-rumah di desa-desa perbatasan yang berfungsi sebagai pos teror Hizbullah.
Klaim yang, agaknya, sulit diverifikasi dari luar.
Sabtu (18/4), dua hari setelah gencatan senjata diberlakukan, warga sipil Lebanon sudah duluan bergerak. Iring-iringan kendaraan mengular panjang melewati reruntuhan jembatan Qasmiyeh di selatan Lebanon, menyusuri jalan darurat berdebu. Banyak yang membawa sisa harta benda seadanya. Pasukan penjaga perdamaian PBB berjaga di sisi jalan, mengawal kepulangan yang penuh tanda tanya itu.
Kondisi yang mereka temui jauh dari kata layak. Infrastruktur hancur, jembatan runtuh, kawasan permukiman rata dengan tanah. Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah sejak 2 Maret lalu, setelah Hizbullah yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap wilayah Israel. Rentetan serangan udara balasan sejak saat itu telah merenggut lebih dari 2.000 nyawa dan memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi.
Angka yang bukan main-main.
Sebagian warga nekat pulang. Sebagian lagi menunggu, tidak yakin gencatan senjata ini bakal bertahan. Ketidakyakinan itu punya dasar. Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa gencatan senjata yang ada harus ditingkatkan menjadi kesepakatan permanen guna menjamin stabilitas jangka panjang negaranya. Hizbullah sendiri menyatakan tetap mempertahankan "hak untuk melawan." Bagi kelompok itu, gencatan senjata bukan pernyataan kalah.
Optimisme, kalau bisa disebut begitu, memang ada. Kesepakatan ini memicu harapan bahwa ketegangan lebih luas di kawasan, termasuk konflik paralel antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi mereda dalam waktu dekat. Tapi sejumlah pihak menilai situasi masih rapuh. Pertanyaannya, berapa lama?
Sepuluh hari. Itu saja waktu yang tersedia untuk membuktikan apakah ini awal dari sesuatu atau sekadar jeda sebelum babak berikutnya.