Empat orang tewas di Lebanon selatan setelah militer Israel melancarkan serangan udara pada Minggu (6/9/2026), eskalasi yang kembali menguji batas kesepakatan kerangka gencatan senjata yang diteken pada Juni lalu.
Kementerian Kesehatan Lebanon merinci, dua korban jiwa jatuh di Nabatieh al-Fawqa. Dua perempuan lainnya tewas di Arab Salim, desa yang hanya berselang beberapa kilometer dari lokasi pertama. Sedikitnya 20 orang mengalami luka-luka, termasuk tiga anak-anak. Rumah-rumah warga di sejumlah desa dilaporkan rata dengan tanah.
Militer Israel menyebut serangan itu balasan atas dua drone peledak Hizbullah yang melintas melewati apa yang disebut Tel Aviv sebagai "Garis Kuning", wilayah yang diklaim sebagai zona keamanan membentang sekitar 10 kilometer ke dalam Lebanon. "Teroris dari organisasi teroris Hizbullah meluncurkan dua pesawat nirawak ke arah tentara IDF yang sedang beroperasi di zona keamanan di Lebanon selatan," bunyi pernyataan resmi militer Israel. Tidak ada prajurit Israel yang dilaporkan terluka.
Sebelum bom pertama jatuh, militer Israel mengirimkan peringatan evakuasi kepada penduduk Arab Salim lewat Telegram berbahasa Arab. "Anda berada di dekat fasilitas milik organisasi teroris Hizbullah, yang menjadi sasaran operasi IDF," tulis militer dalam pesan itu. Peringatan semacam ini, kalau data lapangan bisa dipercaya, agaknya tidak banyak membantu warga yang akhirnya menjadi korban.
Sementara bom masih berjatuhan di selatan, di Tel Aviv justru tengah berlangsung diskusi yang jauh lebih kalkulatif. KAN, lembaga penyiaran publik Israel, mengutip sumber-sumber keamanan anonim, melaporkan bahwa militer Israel tengah mematangkan rencana penataan ulang posisi pasukannya di Lebanon selatan. Skema yang dijuluki "garis abu-abu" itu mencakup pembentukan zona keamanan baru yang lebih ramping: hanya 2 hingga 4 kilometer dari garis perbatasan, jauh lebih pendek dari posisi saat ini yang menembus lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Rencana ini muncul setelah pasukan Israel menyelesaikan penghancuran jaringan terowongan di kawasan dataran tinggi Ali al-Taher, Provinsi Nabatieh. Logikanya sederhana: infrastruktur bawah tanah Hizbullah sudah dihajar, Israel ingin memangkas jumlah personel yang terekspos di garis depan, sekaligus membangun sejumlah pos militer permanen sebagai titik luncur operasi berikutnya. Belum ada lampu hijau dari kepemimpinan politik. KAN menyebut proposal ini masih akan dibahas sebelum keputusan akhir diambil.
Lebanon terseret ke dalam konflik ini sejak Maret, ketika Hizbullah yang didukung Iran mulai menyerang Israel. Serangan balasan Israel, termasuk operasi udara dan invasi darat, diklaim Beirut telah menewaskan lebih dari 4.300 orang sejak konflik meletus pada 2023-2024. Penetrasi lebih dari 10 kilometer ke dalam Lebanon yang dilakukan pasukan Israel disebut-sebut sebagai yang terdalam sejak penarikan mundur pada tahun 2000. Sebagian wilayah yang kini dikuasai Israel bahkan sudah berada di bawah kendalinya selama beberapa dekade.
Tingkat kekerasan sempat mereda setelah nota kesepahaman AS-Iran pada Juni dan kesepakatan kerangka kerja Israel-Lebanon di bulan yang sama. Insiden Minggu kemarin membuktikan bahwa "mereda" bukan berarti selesai. Selama garis abu-abu masih cuma di atas kertas dan drone masih leluasa melintas garis kuning, korban sipil agaknya akan terus berjatuhan.