Puluhan personel pasukan khusus Israel, unit penyelamat udara elit, dan agen Mossad dilaporkan beroperasi dari sejumlah lokasi di Azerbaijan selama perang Israel-Iran berlangsung. Sebagian besar terkonsentrasi di wilayah selatan negeri itu, relatif dekat dengan Tabriz di sisi utara Iran.
Laporan tersebut pertama kali diterbitkan CNN, bersandar pada keterangan empat sumber yang mengklaim memahami operasi dimaksud. Fasilitas di Azerbaijan, menurut mereka, bukan sekadar pos pengamatan pasif. Lokasinya dipakai untuk pengintaian, misi berbasis drone, dukungan logistik, hingga potensi operasi penyelamatan. Cukup untuk menjadikannya salah satu titik paling strategis dalam jaringan pos rahasia Israel di sekitar Iran.
Azerbaijan agaknya bukan satu-satunya. CNN menyebut Israel juga mendirikan fasilitas serupa di Irak, Uni Emirat Arab, dan Somaliland, membentuk semacam cincin posisi depan yang mengapit Iran dari segala penjuru. Dua fasilitas di Irak diklaim berfungsi sebagai pusat logistik dan pencarian-penyelamatan. Somaliland memberikan keuntungan tersendiri karena posisi geografisnya yang mendukung operasi udara jarak jauh menuju Iran. Israel sendiri menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui Somaliland pada Desember lalu, sebuah langkah diplomatik yang kini terbaca punya dimensi strategis lebih dalam.
Fasilitas-fasilitas ini awalnya dirancang sebagai titik darurat untuk operasi penyelamatan, bukan pangkalan tempur. Perang rupanya mengubah kalkulasi. Pos-pos tersebut berkembang menjadi fasilitas pengumpulan intelijen aktif dan titik logistik pendukung operasi militer, bak gayung bersambut dengan kebutuhan lapangan yang terus meluas.
Baku tidak tinggal diam. Juru bicara Kedutaan Besar Azerbaijan di Washington mengeluarkan sangkalan keras, menyebut seluruh klaim sebagai "tidak berdasar" dan menegaskan bahwa wilayah Azerbaijan tidak pernah, dan tidak akan pernah, digunakan pihak ketiga untuk aktivitas yang bersifat permusuhan terhadap negara lain. Kementerian Luar Negeri Azerbaijan turut mengkritik metodologi pelaporan CNN yang hanya mengandalkan sumber anonim, menyebutnya bertentangan dengan prinsip jurnalisme objektif.
Sikap Baku bisa dipahami. Negara mayoritas Muslim yang berbatasan langsung dengan Iran ini menanggung kepentingan diplomatik yang rumit di kawasan. Tuduhan bahwa tanahnya dijadikan batu loncatan untuk menghajar negara tetangga bukan perkara kecil dalam hitungan politik luar negeri. Otoritas militer Irak pun sebelumnya membantah keberadaan pangkalan asing tidak sah di wilayahnya.
Namun laporan CNN, dengan empat narasumber independen, sulit diabaikan begitu saja. Pertanyaannya, berapa lama jaringan ini sudah berjalan sebelum perang pecah? Entah kebetulan atau tidak, pengakuan resmi Israel atas Somaliland tepat di tengah periode konflik memang terlalu rapi untuk disebut sekadar manuver diplomatik biasa. Yang lebih menarik mungkin bukan soal apakah Israel membangun jaringan ini, melainkan seberapa luas jangkauannya.
Bukan main.