KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Israel Deportasi Dua Aktivis Flotilla yang Dicegat...

Internasional

Israel Deportasi Dua Aktivis Flotilla yang Dicegat di Perairan Internasional

Saif Abu Keshek dan Thiago Avila, dua aktivis armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla, akhirnya dideportasi dari Israel setelah ditahan usai pencegatan kapal di perairan internasional dekat Yunani.

Dua aktivis armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla akhirnya dideportasi dari Israel pada Minggu (10/5/2026), mengakhiri penahanan yang sempat memicu intervensi diplomatik dari parlemen-parlemen Eropa.

Keduanya adalah Saif Abu Keshek, warga negara Spanyol-Swedia keturunan Palestina, dan Thiago Avila, warga negara Brasil. "Saif Abu Keshek dan Thiago Avila, dari armada provokatif flotilla tersebut, dideportasi hari ini dari Israel," tulis Kementerian Luar Negeri Israel di platform X.

Ceritanya dimulai jauh sebelum deportasi itu. Armada kemanusiaan bertolak dari Barcelona pada 15 April, membawa puluhan aktivis dengan tujuan Gaza. Militer Israel mencegat kapal-kapal tersebut pada 30 April di perairan internasional dekat Kreta. Para aktivis mengklaim tentara Israel merusak mesin dan sistem navigasi kapal. Klaim yang belum dikonfirmasi pihak Israel.

Sebagian besar aktivis dibawa ke pulau Kreta dan segera dibebaskan. Keshek dan Avila bernasib lain: keduanya dibawa masuk ke wilayah Israel untuk diinterogasi. Sempat dinyatakan hilang pascapencegatan, kabar keberadaan mereka membuat sejumlah parlemen Eropa bergerak meminta intervensi diplomatik.

Israel menuduh keduanya bekerja sama dengan Konferensi Populer untuk Rakyat Palestina di Luar Negeri, organisasi yang dianggap Tel Aviv sebagai entitas bermasalah. Bagi Israel, operasi pencegatan ini bukan hal luar biasa. Pihaknya menegaskan tidak akan memberi toleransi atas upaya apa pun yang dianggap melanggar blokade Gaza.

Haaretz sebelumkan melaporkan masa penahanan keduanya diperpanjang hingga Minggu. Deportasi dilakukan tepat di hari yang sama. Rapi, tapi bukan tanpa tekanan diplomatik yang mengirinya.

Global Sumud Flotilla bukan yang pertama mencoba menerobos blokade Gaza lewat jalur laut. Agaknya juga bukan yang terakhir. Pertanyaannya sederhana: sampai kapan aktivisme semacam ini mampu mengubah sesuatu yang nyata di lapangan?