SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Israel Ancang-ancang Gempur Iran Usai Negosiasi AS...

Internasional

Israel Ancang-ancang Gempur Iran Usai Negosiasi AS-Tehran Buntu di Islamabad

Negosiasi AS-Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, dan Israel menyambutnya dengan antusias sambil mempersiapkan militer untuk kembali menyerang Tehran.

Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, buyar tanpa hasil akhir pekan lalu. Israel, yang selama ini sibuk melobi Washington dari balik layar agar gencatan senjata gagal, kini terang-terangan bersiap melancarkan serangan baru ke Tehran.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan dalam rapat kabinet Senin (13/4) bahwa kesepakatan gencatan senjata AS-Iran bisa runtuh "dalam waktu yang sangat singkat". Bukan peringatan. Lebih terdengar seperti harapan. Sejak Trump mengumumkan gencatan dua pekan pada 8 April lalu, Tel Aviv dilaporkan tak berhenti melobi Washington agar kembali mengambil sikap keras terhadap Tehran.

Menteri Energi Israel Eli Cohen bahkan lebih gamblang soal ini. Kepada harian Yedioth Ahronoth pada Minggu (12/4), Cohen menegaskan: "Jika tidak ada kesepakatan, Iran dapat diserang." Ia juga memuji Trump yang dinilainya telah menetapkan garis merah soal program nuklir Tehran.

Blokade laut terhadap pelabuhan Iran yang mulai berlaku Senin pukul 14.00 GMT mendapat dukungan penuh dari Israel. Netanyahu mengaku berbicara langsung dengan Wakil Presiden J.D. Vance. Pesan Vance jelas: tuntutan inti AS adalah penghapusan seluruh material yang telah diperkaya dan penghentian total aktivitas pengayaan uranium. "Iran setuju untuk segera membuka akses, namun mereka tidak melakukannya," klaim Netanyahu, mengutip Anadolu Agency.

Bagaimana situasi ini sampai ke titik ini? Runtutannya cukup panjang.

Mengutip analisis The Guardian yang diteruskan CNBC Indonesia, Netanyahu bertemu Trump di Mar-a-Lago pada 29 Desember 2025 dengan satu agenda utama: meyakinkan Washington bahwa perang melawan Iran itu "mudah" dan perubahan rezim tinggal selangkah lagi. Trump tampak termakan narasi itu bulat-bulat. Dalam konferensi pers bersama Netanyahu, ia bahkan mengulang klaim Israel soal Iran yang sedang membangun kembali kekuatan militernya. "Kita harus menjatuhkan mereka. Kita akan menghancurkan mereka," kata Trump saat itu.

Lobi berlanjut intensif. Intelijen Israel mengklaim rezim Tehran rapuh dan bisa rontok dari dalam. Perencana militer Israel menyiapkan skenario konflik maksimal tiga minggu.

Kenyataannya jauh lebih berantakan. Konflik telah memasuki bulan kedua tanpa tanda mereda, jauh melampaui skenario paling pesimistis yang pernah dipersiapkan Tel Aviv. Sejumlah tokoh penting Iran memang dilaporkan tewas, termasuk figur-figur dalam lingkaran Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Tapi strategi "decapitation" yang dijanjikan Netanyahu gagal menghasilkan perubahan rezim. Kekuatan Iran justru terkonsolidasi di bawah Garda Revolusi. Seorang pejabat AS yang dikutip Axios menyebut Netanyahu terlalu meyakinkan Trump bahwa perang ini akan simpel, "jauh lebih mudah dari kenyataannya."

Dampak ekonominya kini sudah tidak bisa disembunyikan. Penutupan Selat Hormuz menghajar pasar energi global, biaya konflik ditaksir miliaran dolar, dan stok persenjataan canggih AS mulai tertekan. Trump, yang awalnya tampak mesra sekali dengan narasi Netanyahu, kini dihajar realita yang jauh lebih ruwet dari yang dibayangkan.

Di lapangan, Israel pun masih terus menyerang Lebanon, menargetkan milisi Hizbullah. Padahal Iran dan Pakistan sebagai mediator menegaskan bahwa Lebanon masuk dalam syarat gencatan. Langkah yang, agaknya, memang sengaja dirancang untuk menjaga api tetap menyala.

Pertanyaannya sekarang: sampai kapan Trump bersedia menanggung beban perang yang janji kemudahannya ternyata isapan jempol belaka?