JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Israel Ancam Serang Iran Ketiga Kali, Netanyahu: O...

Internasional

Israel Ancam Serang Iran Ketiga Kali, Netanyahu: Operasi Belum Usai

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengancam serangan militer baru ke Iran "dengan kekuatan jauh lebih besar", sementara Netanyahu menggelar rapat darurat di tengah eskalasi pertempuran AS-Iran yang memicu kekhawatiran gencatan senjata April lalu bakal runtuh.

Israel Ancam Serang Iran Lagi!

Ancaman itu disampaikan langsung dari podium seremoni militer. Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan negaranya siap melancarkan serangan ketiga ke Iran, dan kali ini tidak akan tanggung-tanggung.

"Militer siap dan siaga untuk melanjutkan pertempuran, guna merebut kembali keunggulan udara dan melancarkan serangan lagi di Iran, demi menghilangkan ancaman, termasuk untuk ketiga kalinya jika diperlukan," tegas Katz dalam pidatonya, Kamis (9/7). Kalau Israel harus bergerak lagi, kata dia, operasinya akan dijalankan "dengan kekuatan yang jauh lebih besar."

Pernyataan Katz bukan muncul di ruang hampa. Pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dalam beberapa hari terakhir, mengancam meruntuhkan gencatan senjata yang diberlakukan sejak April. Kesepakatan awal Washington-Teheran untuk mengakhiri permusuhan, yang sempat memunculkan harapan deeskalasi, kini agaknya kembali diuji.

Netanyahu menggelar rapat darurat, mengantisipasi kemungkinan konflik meluas. Ia tidak menampik bahwa situasinya masih jauh dari selesai. "Poros Iran kini lebih lemah dari sebelumnya, sementara Israel lebih kuat dari sebelumnya," klaimnya dalam seremoni yang sama. Kalimat berikutnya justru lebih jujur: "Kita telah membuktikan bahwa jangkauan luas Angkatan Udara Israel dapat mencapai mana pun, mulai dari Yaman hingga Iran. Namun, kita juga harus mengakui bahwa operasi ini belum usai."

Dua pernyataan itu, dalam satu napas, menggambarkan posisi Israel yang bisa jadi lebih rumit dari yang ditampilkan ke publik. Angkat tangan satu pihak sebagai pemenang, tapi sekaligus buka opsi serangan lanjutan. Kalkulasi politik atau sinyal nyata? Susah dibedakan.

Kronologi konflik ini cukup padat. Perang terbaru dimulai 28 Februari lalu ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi Teheran. Bukan serangan pertama. Sebelumnya, Israel sudah lebih dulu menggempur Iran lewat perang 12 hari pada Juni 2025. Serangan Februari lalu yang kedua, dan Katz kini membuka pintu untuk ronde ketiga.

Bagi pasar dan pelaku investasi global, eskalasi di Timur Tengah selalu punya ekor panjang: harga minyak bergejolak, selera risiko merosot, aset safe haven seperti emas kembali dilirik. Kalau konflik ini benar-benar pecah lagi, dampaknya tidak akan berhenti di perbatasan Iran.