SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Israel Ancam Gugat NYT atas Laporan Kekerasan Seks...

Internasional

Israel Ancam Gugat NYT atas Laporan Kekerasan Seksual Terhadap Tahanan Palestina

Netanyahu menginstruksikan gugatan pencemaran nama baik terhadap The New York Times dan jurnalis senior Nicholas Kristof setelah artikel kekerasan seksual oleh aparat Israel terhadap tahanan Palestina viral dan ditolak untuk dicabut.

Heboh Artikel Kekerasan Seksual, Netanyahu Bakal Gugat The New York Times

Bukan kali pertama Netanyahu menggertak media Amerika. Agustus tahun lalu, ia pernah mengancam hal serupa terhadap The New York Times soal liputan kelaparan di Gaza, tapi gugatan itu tidak pernah terwujud. Kali ini nadanya lebih serius.

Pada Kamis, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah menginstruksikan penasihat hukumnya untuk mempertimbangkan "langkah hukum paling keras" terhadap NYT dan Nicholas Kristof, jurnalis senior yang menulis artikel soal dugaan kekerasan seksual oleh tentara Israel, sipir penjara, dan pemukim terhadap tahanan Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Kementerian Luar Negeri Israel, atas instruksi Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Sa'ar, memperkuat pernyataan itu lewat platform X, menyebut artikel tersebut sebagai "salah satu kebohongan paling keji dan terdistorsi" yang pernah dipublikasikan media modern.

Artikel Kristof masuk di rubrik opini, bukan halaman depan. Bagi sebagian kalangan di Israel, ini saja sudah cukup menggelitik amarah, mengingat liputan serupa soal kekejaman Hamas sebelumnya mendapat porsi halaman depan. Para politisi dan influencer Israel langsung menuduh NYT menyebarkan "blood libel", istilah yang merujuk pada tuduhan antisemit klasik dari Eropa abad pertengahan yang kerap dipakai untuk membenarkan pembantaian orang Yahudi.

Isinya tidak main-main. Kristof mewawancarai 14 pria dan wanita, di antaranya seorang jurnalis Palestina berusia 46 tahun bernama Sami al-Sai, yang mengaku mengalami kekerasan seksual oleh tentara Israel laki-laki dan perempuan menggunakan tongkat karet, dan mengaku bahwa rekaman kejadian itu dibuat oleh para tentara. Kesaksian lain menyebut penyiksaan seksual menggunakan anjing, pemerkosaan dengan benda asing seperti tongkat dan wortel, hingga luka serius pada sejumlah korban.

NYT menolak mencabut artikel tersebut. Juru bicara surat kabar Charlie Stadtlander menyatakan bahwa setiap kesaksian telah diperkuat oleh saksi lain jika memungkinkan, termasuk anggota keluarga dan pengacara korban, serta telah melalui proses verifikasi menyeluruh. Ini bukan artikel yang ditulis asal-asalan.

Kristof sendiri menulis dengan framing yang tajam: pajak warga Amerika mensubsidi aparat keamanan Israel, sehingga Washington, menurut argumentasinya, turut terseret secara tidak langsung dalam kekerasan seksual tersebut. Kalimat itu agaknya yang paling menyengat bagi pemerintah Israel.

Dukungan terhadap laporan semacam ini tidak berdiri sendiri. Sebulan sebelumnya, Middle East Eye sudah menerbitkan dokumen berjudul "Sexual Violence and Forcible Transfer in the West Bank" dari West Bank Protection Consortium, yang mendokumentasikan sedikitnya 16 kasus dugaan kekerasan seksual melibatkan pemukim dan tentara Israel. PBB serta sejumlah kelompok hak asasi manusia juga mengaku telah mendokumentasikan penggunaan kekerasan seksual oleh kedua pihak, baik Israel maupun Hamas, sejak serangan 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza.

Kristof turut mengutip laporan Euro-Med Monitor, Save the Children, Committee to Protect Journalists, dan B'Tselem, dan mewawancarai pengacara Israel yang mengakui praktik kekerasan seksual terhadap warga Palestina terjadi secara luas. Sebagian besar korban menolak identitas mereka dipublikasikan. Bisa jadi karena stigma sosial di masyarakat Palestina yang konservatif, bisa jadi ada alasan lain. Pertanyaannya, berapa banyak yang masih belum berani bersuara?

Netanyahu belum menyebutkan di mana dan kapan gugatan formal akan didaftarkan. Kalau pola lama berulang, ancaman ini bisa jadi sekadar tekanan politik. NYT, setidaknya sampai sekarang, tidak bergeming.