KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Israel Akui Tekanan AS Hambat Serangan Besar ke Hi...

Internasional

Israel Akui Tekanan AS Hambat Serangan Besar ke Hizbullah

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengungkap bahwa rencana operasi militer skala penuh terhadap Hizbullah sengaja ditahan demi tidak mengganggu meja negosiasi Washington dengan Teheran.

Israel Akui Batasi Operasi terhadap Hizbullah karena Prioritas Diplomasi AS–Iran

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz akhirnya bicara terbuka soal sesuatu yang agaknya jadi rahasia umum di lingkaran strategis Tel Aviv: IDF punya rencana serangan jauh lebih besar terhadap Hizbullah di Lebanon, tapi tidak pernah dieksekusi karena Washington memintanya ditunda.

Katz menyebut militer Israel sempat menyiapkan serangan udara berskala besar yang, menurut klaimnya, berpotensi meruntuhkan Hizbullah sepenuhnya. Ketika diplomasi antara AS dan Iran mulai bergerak, prioritas Washington bergeser. Israel diminta menyesuaikan diri. "Seandainya tidak ada tekanan Amerika terhadap Israel, IDF akan menyebabkan keruntuhan Hizbullah di Lebanon," ujar Katz.

Pernyataan ini penting, bukan karena mengejutkan, tapi karena jarang diakui eksplisit oleh pejabat sekelas Menhan. Selama ini narasi yang dijual ke publik adalah Israel beroperasi penuh atas pertimbangan keamanan sendiri. Kenyataannya, ada "keterkaitan" antara situasi Lebanon dan meja negosiasi AS-Iran yang dibentuk pemerintahan Trump.

"Saya menyesal dengan keterkaitan itu, tetapi itu adalah kepentingan Amerika. Mereka sangat ingin memajukan kemungkinan negosiasi dengan Iran," kata Katz.

Alhasil, strategi IDF di Lebanon diputar ulang. Operasi berskala penuh dikorbankan, digantikan pendekatan yang lebih terbatas: fokus ke wilayah utara Sungai Litani dan penguatan zona keamanan di Lebanon selatan. Serangan terhadap target Hizbullah tetap berlangsung, tapi jauh dari ambisi awal yang disebut Katz. Cukup jauh, kalau data ini bisa dipercaya.

Katz mengakui hubungan strategis dengan AS memberi keuntungan bagi Israel. Tapi relasi itu punya harga, berupa batasan nyata dalam otonomi pengambilan keputusan militer. Komunikasi intens antara Washington dan Tel Aviv, ia ungkapkan, berlangsung justru menjelang tercapainya nota kesepahaman antara AS dan Iran. Bak pedang bermata dua.

Apakah ini strategi yang tepat? Pertanyaan yang bisa jadi masih diperdebatkan di internal kabinet Netanyahu. Yang jelas, Israel menegaskan tidak melepas opsi militer, khususnya jika Iran terlibat langsung dalam konflik. "IDF siap, tetapi kami tidak akan mengganggu arah kebijakan Presiden Amerika Serikat terhadap Iran," tegas Katz.

Gamblang. Israel, sekuat apapun angkatan bersenjatanya, tetap bermain dalam batas yang ditentukan Washington. Dalam babak Timur Tengah yang sedang dihajar perubahan ini, jarak antara kedaulatan strategis dan ketergantungan aliansi makin tipis saja.