RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  IRGC Masih Punya Taring: Rudal Bawah Tanah, Ranjau...

Internasional

IRGC Masih Punya Taring: Rudal Bawah Tanah, Ranjau, dan Pasukan Quds yang Tak Kemana-mana

Meski dihantam lebih dari 13.000 serangan AS dan ribuan serangan Israel, Korps Garda Revolusi Islam Iran ternyata jauh dari menyerah. Jaringan asimetrisnya, dari ranjau laut hingga unit operasi rahasia Pasukan Quds, masih menjadi variabel yang diperhitungkan di meja negosiasi Doha.

Kekuatan IRGC Terbongkar, Rudal dan Ranjau Iran Bikin AS Tetap Waspada

Ribuan serangan udara dalam kurang dari 40 hari. CENTCOM mengklaim lebih dari 85 persen industri pertahanan Iran, mencakup rudal balistik, drone, dan angkatan laut, sudah lumpuh atau hancur. Di atas kertas, Iran harusnya sudah habis.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Delegasi Iran saat ini berada di Doha untuk melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Qatar, menyusul nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni guna mengakhiri konflik. Posisi Teheran di meja negosiasi bukan semata hasil diplomasi, tapi juga cerminan dari seberapa banyak daya tempur yang masih mereka pegang. Dan rupanya, masih cukup banyak.

Amerika Serikat mengklaim telah menyerang lebih dari 13.000 target, sementara Israel menyebut angka sekitar 10.800 serangan terhadap 4.000 sasaran. Sasarannya beragam: fasilitas rudal balistik dan jelajah, pangkalan drone, sistem pertahanan udara, pusat komando, fasilitas nuklir, pangkalan angkatan laut, hingga infrastruktur energi dan petrokimia. Pemerintah Iran tidak pernah merilis data resmi soal kerusakan itu.

Namun laporan intelijen AS dan analisis citra satelit menunjukkan hal yang mungkin tidak ingin didengar Washington: sebagian besar jaringan pangkalan rudal bawah tanah milik Korps Garda Revolusi Islam, atau IRGC, tetap utuh. Beberapa fasilitas yang sempat rusak dilaporkan sudah kembali beroperasi. Produksi drone, menurut klaim pejabat militer Iran, bahkan meningkat dibanding sebelum perang. Angka yang patut disambut skeptis, tapi juga tidak bisa diabaikan begitu saja.

Tetap bertahan. Itulah kira-kira pesan yang coba disampaikan Jenderal Ahmad Vahidi ketika dia kembali muncul ke publik setelah menghilang sejak 8 Februari 2026, beberapa pekan sebelum perang pecah. Kepala IRGC itu hadir dalam rapat persiapan pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan duduk di dekat peti jenazahnya. Kemunculannya bukan sinyal personal semata. Ini sinyal institusional: IRGC masih ada, masih terorganisir, dan masih duduk di lingkar dalam kekuasaan Teheran, termasuk dekat dengan Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei yang hingga kini belum muncul ke publik setelah dilaporkan terluka dalam serangan awal perang.

Lantas apa yang sesungguhnya tersisa dari mesin perang Iran?

Di laut, IRGC Navy mempertahankan kehadirannya di Selat Hormuz dengan doktrin yang sama sekali berbeda dari angkatan laut konvensional. Bukan kapal besar, bukan duel terbuka. Yang diandalkan: kapal cepat bersenjata roket dan rudal antikapal ringan, kapal selam mini kelas Ghadir dan Nahang yang cocok untuk perairan dangkal Teluk Persia, serta ranjau laut. Stok ranjau Iran diperkirakan 5.000 hingga 6.000 unit. Tidak perlu menutup Selat Hormuz sepenuhnya. Cukup menimbulkan keraguan saja sudah cukup untuk mendongkrak biaya asuransi pengiriman dan memaksa AS menggelar operasi pembersihan ranjau yang makan waktu dan sumber daya.

Kapasitas rudal Iran, meski tergerus, belum padam. Rudal jelajah antikapal Noor dan Qader masih jadi ancaman nyata bagi kapal permukaan di radius 200 hingga 300 kilometer. Sementara Ghadr-380 diklaim punya jangkauan hingga 1.000 kilometer, yang kalau akurat, berarti kapal perang AS di luar Selat Hormuz pun masih dalam bidikan. Rudal balistik antikapal Khalij Fars menambah lapisan ancaman dari atas, dengan kecepatan jatuh yang memberi waktu respons sangat singkat bagi lawan.

Drone melengkapi gambaran itu secara efisien. Model Shahed bisa diterbangkan massal dengan biaya yang relatif murah. Drone pengintai memberi Iran kemampuan melacak pergerakan kapal dan memandu serangan rudal berikutnya. Sebuah kombinasi yang, entah kebetulan atau tidak, membuat posisi aset AS di kawasan Teluk tetap tidak nyaman.

Di balik semua lapisan kekuatan taktis ini, ada satu unit yang bekerja lebih senyap namun dampaknya justru lebih luas. Pasukan Quds, satuan operasi luar negeri IRGC, namanya diambil dari Al-Quds, sebutan Arab untuk Yerusalem, dan itu bukan kebetulan. Sejak Revolusi 1979, isu Palestina menjadi fondasi ideologis kebijakan luar negeri Iran, dan Pasukan Quds adalah lengan eksekutornya.

Unit ini menghimpun sekitar 5.000 hingga 15.000 personel yang dipilih dari tubuh IRGC yang total berkekuatan 150.000 hingga 190.000 orang. Tugasnya mencakup pelatihan, penyaluran senjata, pendanaan, dan koordinasi operasional dengan jaringan kelompok bersenjata: Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, Houthi di Yaman, hingga Hamas dan Palestinian Islamic Jihad. Di bawah Qasem Soleimani, yang tewas dalam serangan drone AS di Baghdad pada Januari 2020, jaringan ini tumbuh menjadi salah satu instrumen geopolitik paling efektif di kawasan.

Penggantinya, Esmail Qaani, memilih profil yang jauh lebih rendah. Pertemuan dilakukan tertutup, jarang tampil ke media. Tapi jaringan yang dibangun selama puluhan tahun tidak runtuh hanya karena komandannya berganti. Bak mesin yang sudah terlanjur panas, struktur itu bergerak dengan logikanya sendiri.

Sementara negosiasi di Doha berlanjut, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan militernya telah menyiapkan target baru di Iran dan siap kembali beroperasi jika pembicaraan dinilai gagal. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membalas dengan nada sama tegasnya: setiap ancaman terhadap rakyat atau kepemimpinan Iran akan mendapat respons tegas.

Dua pihak yang sama-sama tidak ingin terlihat berkedip lebih dulu. IRGC, dengan ranjau di Hormuz dan jaringan Pasukan Quds yang membentang melintasi Timur Tengah, tetap menjadi kartu yang Tehran pegang erat di atas meja.