SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Tutup Pintu Soal Uranium, Trump Sibuk Urus Ke...

Internasional

Iran Tutup Pintu Soal Uranium, Trump Sibuk Urus Keputusan Final yang Belum Final

Di tengah tekanan pasca-serangan AS-Israel, Iran menegaskan tidak akan menyerahkan cadangan uranium diperkayanya ke negara mana pun, sementara Trump mengaku tak nyaman jika material itu jatuh ke tangan Rusia atau China.

Iran: Tidak Ada Negosiasi dengan AS soal Isu Nuklir

Cadangan uranium Iran yang diperkaya hingga 60% itu kini jadi rebutan narasi. Teheran memilih menutup pintu rapat-rapat.

Ebrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, menegaskan negaranya tidak berencana menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya kepada negara ketiga atau pihak perantara mana pun. Pernyataan keras ini keluar tepat saat isu transfer uranium ke China sedang ramai diperbincangkan, seiring negosiasi gencatan senjata dengan AS yang belum juga menunjukkan tanda-tanda terobosan.

Kementerian Luar Negeri Iran bahkan lebih jauh. Juru bicaranya, Esmaeil Baqaei, menyatakan tidak ada negosiasi nuklir yang sedang berjalan sama sekali. "Pada tahap ini, kami fokus pada mengakhiri perang, dan tidak ada negosiasi mengenai isu nuklir," tegasnya kepada TV pemerintah Iran. Pertukaran pesan dengan AS, kata Baqaei, memang masih berlanjut, tapi belum ada kesepakatan akhir yang tercapai untuk mengakhiri konflik.

Trump tampil dengan cerita berbeda. Dalam unggahan panjang di media sosialnya, ia mengklaim sedang menyiapkan "keputusan final" soal perang dengan Iran, dan menyebut uranium Iran "akan digali oleh Amerika Serikat dalam koordinasi dan kerja sama erat dengan Republik Islam Iran serta IAEA, lalu dihancurkan." Klaim yang patut dicermati, mengingat Iran sendiri membantah keras ada kesepakatan semacam itu.

Satu hal konsisten dari Trump: Rusia dan China tidak boleh memegang material itu. "Tidak, saya tidak akan merasa nyaman," ujarnya kepada wartawan saat ditanya soal kemungkinan dua negara tersebut mengambil alih uranium Iran. Bukan pernyataan dari ruang hampa. Rosatom, perusahaan nuklir negara Rusia, sudah menyatakan kesiapannya membantu pemindahan uranium diperkaya dari Iran sejak 18 April lalu. Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia bahkan menegaskan Moskow siap menyimpan material itu jika Teheran memintanya sebagai bagian dari kesepakatan dengan AS.

Beijing memilih jalur lebih sunyi. Kementerian Luar Negeri China hanya menyatakan mendukung penyelesaian damai isu nuklir Iran melalui dialog, tanpa mengakui atau menolak isu transfer uranium yang beredar.

Material yang jadi pusat tarik-ulur ini bukan sembarang tumpukan logam. Uranium diperkaya 60% itu disebut masih terkubur di bawah reruntuhan fasilitas nuklir Iran yang dibom AS dan Israel pada Juni 2025. Terkubur, tapi bukan tidak berbahaya, kalau data ini bisa dipercaya, material tersebut masih berpotensi dikembangkan menjadi senjata nuklir dalam waktu relatif singkat. Itulah yang membuat Washington sulit tenang.

Kronologi konflik ini bergerak cepat. Serangan gabungan AS-Israel ke wilayah Iran dimulai 28 Februari 2025, menewaskan lebih dari 3.000 orang. Gencatan senjata diumumkan 7 April, tapi pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa terobosan. AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan perairan Iran. Trump mensyaratkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari paket kesepakatan damai, tuntutan yang langsung ditepis Azizi. Kendali Iran atas selat itu, tegasnya, bersifat permanen.

Pertanyaannya sederhana tapi berat: kesepakatan damai yang diklaim Trump itu nyata, atau sekadar manajemen ekspektasi sebelum babak berikutnya? Teheran menolak membahas nuklir. Moskow dan Beijing bermanuver di pinggir lapangan. Washington belum menyelesaikan "keputusan finalnya" yang sudah beberapa kali diumumkan. Bak pedang bermata dua, setiap klaim perdamaian yang meluncur dari Washington justru memperpanjang daftar pertanyaan yang belum terjawab.