Kepala badan energi nuklir Iran, Mohammad Eslami, tidak main-main. Tuntutan Amerika Serikat dan Israel soal pembatasan pengayaan uranium, tegasnya, "hanyalah keinginan yang akan terkubur."
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Negosiasi antara Teheran dan Washington sedang berada di titik paling alot sejak perundingan dimulai, dan Washington rupanya mengubah taruhan di tengah permainan: dari sekadar memangkas kapasitas pengayaan uranium, tuntutan bergeser ke penghentian total seluruh aktivitas nuklir, termasuk produksi isotop untuk keperluan medis. Tuntutan itu dianggap melampaui kerangka sepuluh poin yang sudah menjadi basis pembicaraan kedua belah pihak.
Bukan angka kecil yang dipertaruhkan.
Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, kembali jadi kartu truf Teheran. Ancaman penutupan selat itu, kalau benar-benar dieksekusi, bisa memicu guncangan harga energi global yang dampaknya akan terasa dari pompa bensin di Jakarta sampai kilang-kilang di Rotterdam.
Yang membuat frustrasi banyak pengamat adalah bahwa negosiasi ini sempat mencapai titik menjanjikan, baik di Jenewa maupun di Oman. Iran berulang kali menegaskan bahwa dekrit pemimpin tertinggi Ali Khamenei melarang pengembangan senjata nuklir, dan klaim itu agaknya sudah hampir diterima sebagai landasan bersama. Lalu Washington menggeser syarat secara sepihak, dan meja perundingan pun terbakar.
Rusia pun angkat bicara. Diplomat Moskwa menyebut posisi AS soal uranium Iran sebagai sesuatu yang "tidak logis", sebuah sinyal bahwa tekanan diplomatik terhadap Washington kini datang bukan hanya dari Teheran.
Ada pertanyaan yang menggantung: apa isi draf perjanjian yang ditinggalkan utusan AS di meja perundingan? Sejumlah pengamat mendorong Iran mempublikasikan dokumen itu agar publik bisa menilai sendiri siapa yang sesungguhnya mempersulit kesepakatan. Hingga kini, Washington belum menjelaskan poin-poin yang mereka tawarkan kepada Teheran, angka yang patut dicermati mengingat transparansi biasanya jadi senjata pertama dalam perang opini diplomatik.
Di balik kebuntuan ini, ada yang menduga sejumlah kelompok kepentingan di kedua sisi justru tidak ingin negosiasi berhasil. Konflik yang terjaga di suhu rendah, tapi tak pernah selesai, punya nilai politik tersendiri bagi pihak-pihak tertentu. Bukan kesimpulan yang mengejutkan, tapi tetap menyesakkan.
"Ada lautan ketidakpercayaan yang mereka coba bangun jembatannya, dan pernyataan seperti ini serta meninggalkan negosiasi dengan ultimatum tidak akan membantu menjembatani perbedaan tersebut," ungkap sumber yang dikutip dalam laporan Al Jazeera.
Dua negara yang saling curiga, satu meja perundingan yang berulang kali hampir mencapai titik temu, dan satu selat sempit yang nasibnya bisa menentukan arah ekonomi global. Sejauh ini, tak ada tanda-tanda salah satu pihak siap berkedip lebih dulu.