Tehran sudah bicara, dan jawabannya tegas: tidak.
Ebrahim Azizi, kepala komite keamanan nasional dan kebijakan luar negeri parlemen Iran, secara eksplisit menyatakan bahwa Teheran tidak berniat memindahkan uranium pengayaan tinggi miliknya ke luar negeri. "Kami tidak memiliki rencana untuk membawa uranium pengayaan tinggi ke luar negeri. Kami tidak berniat untuk memindahkan uranium yang diperkaya ke negara ketiga, perantara, atau ke mana pun," tegasnya kepada kantor berita RIA Novosti, Jumat (29/5/2026). Pernyataan itu bukan sekadar respons diplomatik biasa, ah, tapi justru itulah masalahnya: disampaikan ketika Washington sedang menimbang opsi yang jauh lebih keras dari sekadar tekanan verbal.
Tiga pejabat diplomatik yang mengetahui pembahasan internal AS mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan pengerahan pasukan khusus di darat untuk merebut persediaan uranium Iran. Bukan tanpa sebab. Laporan terbaru International Atomic Energy Agency (IAEA) mengonfirmasi Iran telah memperkaya uranium hingga 60%, hanya selangkah dari 90% yang dikategorikan weapons-grade.
Angka itu yang bikin Washington gelisah. Uranium 60% berada di zona teknis yang sangat sensitif, dan para pejabat AS dilaporkan khawatir stok tersebut mungkin sudah bergeser secara diam-diam. Kecemasan itu muncul bersamaan dengan panasnya situasi di Timur Tengah, entah kebetulan atau tidak.
Sehari sebelum pernyataan ke RIA Novosti, Azizi sudah memperjelas posisi Iran lewat unggahan di X, Rabu (27/5). Iran, tulisnya, tidak akan dipaksa mundur oleh retorika Trump dari empat garis merah: hak memperkaya uranium, kepemilikan atas uranium yang telah diperkaya, otoritas atas Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi. Bagi sebagian analis, keempat poin itu terasa lebih seperti peta jalan konfrontasi ketimbang tawaran kompromi.
Moskow pun ikut angkat suara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, Kamis (28/5), menegaskan bahwa stok uranium Iran adalah milik Iran sepenuhnya, dan hanya rakyat Iran yang berhak menentukan nasibnya. Dukungan geopolitik dari Rusia ini agaknya memperkuat posisi tawar Tehran.
Skala persoalan uranium global sendiri layak dicermati. Kazakhstan, produsen terbesar dunia, mencetak 23.270 ton pada 2024, menyumbang lebih dari sepertiga produksi global. Kanada menyusul di posisi kedua dengan 14.309 ton; Namibia di urutan ketiga, 7.333 ton. Iran bukan pemain di liga itu. Justru di situlah inti masalahnya: yang membuat Teheran berbahaya di mata Washington bukan volume produksi, melainkan tingkat pengayaan dan ambiguitas di baliknya.
Pengayaan 60% secara teknis masih bisa diklaim untuk keperluan sipil. Sekitar 10% listrik global memang bersumber dari energi nuklir, yang dilirik banyak negara karena emisi karbonnya jauh lebih rendah dibanding fosil. Tapi klaim itulah yang dipertanyakan Washington. Dan Iran tidak bersedia memberikan jaminan yang diminta.
Pertanyaannya: berapa lama kebuntuan ini bisa ditahan sebelum salah satu pihak bergerak lebih dulu?