Satu penghargaan militer yang diam-diam diserahkan membuka kotak Pandora yang sudah lama ditutup rapat oleh Ottawa.
Bulan lalu, pemerintah Kanada menyetujui pemberian Medali Salib Jasa Terpuji kepada Kolonel David K. Thorne, mantan pilot CF-18 yang kini menjabat wakil komandan Divisi Udara Pertama Kanada. Penghargaan itu diberikan atas kepemimpinannya mengevakuasi sekitar 10.000 personel dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, ketika Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran pada 13 Juni 2025 yang kemudian berkembang menjadi perang 12 hari. Pernyataan resmi militer Kanada baru diterbitkan pada 26 Juli 2026, nyaris tepat setahun setelah konflik berakhir. Bukan main telatnya.
Thorne ketika itu memimpin Combined Air Operations Center (CAOC), pusat komando multinasional yang melibatkan 17 negara dan berbasis di Al Udeid, pangkalan militer Amerika Serikat terbesar di Timur Tengah. National Post yang pertama melaporkannya langsung memantik pertanyaan lama yang belum pernah benar-benar terjawab: seberapa jauh, sebetulnya, Kanada terlibat?
Teheran tidak perlu waktu lama untuk bereaksi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyerang Ottawa lewat platform X pada Minggu, 16 Agustus 2026. Kalimatnya pendek tapi menikam. "Washington menyebut Kanada sebagai negara bagian ke-51, mengenakan tarif terhadap barang-barang negara tersebut, bahkan mengancamnya dengan hukuman terkait asap kebakaran hutan; tanggapan Ottawa: Dipahami, Tuan!" tulisnya. Ia lalu menambahkan bahwa Ottawa tetap berpartisipasi dalam apa yang disebutnya "perang ilegal" melawan Iran, semata demi menyenangkan Washington. "Ini bukan malam hoki di Kanada; ini adalah tim pemain muda Washington," sindir Baqaei, meminjam referensi olahraga paling ikonik di negara itu untuk memperuncing retorikanya.
Sindirannya ada substansinya, kalau data ini bisa dipercaya. Perang dagang Ottawa-Washington sedang membara: tarif, ancaman, dan retorika "negara bagian ke-51" terus datang dari pihak Amerika. Tapi soal militer? Kanada agaknya memilih jalan lain. Perdana Menteri Mark Carney memang berulang kali menegaskan Kanada tidak terlibat dalam operasi ofensif terhadap Iran. Dalam konferensi pers di Australia pada Maret, ia menyatakan Kanada bukan bagian dari tindakan tersebut. Namun ketika ditanya apakah posisi itu bisa berubah jika konflik meluas, Carney tidak memberi penolakan mutlak: Kanada, katanya, akan berdiri bersama para sekutu apabila dinilai masuk akal.
Kenyataan di lapangan jauh lebih rumit. CTV News mengungkap bahwa Ottawa tidak pernah secara aktif mengumumkan keberadaan 200 personel pendukung Kanada di kawasan Teluk, yang baru terbongkar ke publik pada Maret saat AS dan Israel tengah menggempur Iran. Lebih dari itu, Carney baru mengakui kerusakan Camp Canada, fasilitas militer Kanada di Kuwait, setelah gambar satelit dan laporan media lebih dulu beredar. Rp2,3 triliun? Bukan. Yang lebih mahal: kepercayaan publik yang tergerus. Sebuah rudal Iran, menurut laporan 1 Maret 2026, sempat menghantam fasilitas tersebut.
Pendiam. Itulah kesan yang tertinggal dari pola Ottawa selama berbulan-bulan terakhir.
Mantan Menteri Pertahanan Peter MacKay tidak menyembunyikan kegelisahannya. Ia menilai keputusan pemerintah Carney untuk tidak mengungkap penghargaan Thorne secara terbuka sebagai sesuatu yang janggal, terutama mengingat narasi "keras terhadap AS" yang terus didengungkan pemerintah. "Terbongkarnya cerita seperti ini merusak seluruh narasi tersebut," tegas MacKay.
Kepala Canadian Global Affairs Institute David Perry menyebutnya sebagai tren yang lebih dalam. Kanada, menurut Perry, dalam beberapa bulan terakhir mengalami penurunan transparansi soal pertahanan. "Mereka tidak banyak menerbitkan informasi dan tidak banyak memberikan penjelasan mengenai hal tersebut," kata Perry kepada National Post. Perkembangan situasi di Timur Tengah serta relasi Ottawa dengan pemerintahan Donald Trump, menurut Perry, kemungkinan besar membuat pemerintah Kanada memilih pendekatan senyap.
Departemen Pertahanan Nasional Kanada, melalui juru bicara Kend Sadiqou, tetap berpegang pada garis resmi: Kanada tidak terlibat dalam operasi militer ofensif terhadap Iran. Permintaan wawancara dengan Kolonel Thorne pun ditolak.
Pertanyaannya bukan lagi soal apakah Kanada hadir di kawasan itu. Sudah jelas ada. Yang lebih relevan: berapa banyak lagi yang belum terungkap, dan kapan Ottawa merasa cukup nyaman untuk mengatakannya kepada publik sendiri?