Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas di sana setiap hari. Selama berminggu-minggu, jalur itu jadi hantu bagi pasar energi global. Kini ada kabar yang agaknya cukup untuk membuat trader sedikit bernapas lega.
Iran dan Amerika Serikat dilaporkan tengah memfinalisasi kerangka pembukaan kembali Selat Hormuz, sekitar 30 hari setelah kedua negara mencapai kesepakatan damai. Laporan itu pertama kali diterbitkan Nikkei, harian bisnis Jepang, Senin (26/5/2026), dengan mengutip sumber diplomatik di kawasan Timur Tengah. Selama masa transisi 30 hari tersebut, Iran disebut akan menjalankan operasi pembersihan ranjau di jalur pelayaran sebelum akhirnya dibuka penuh untuk navigasi internasional.
Iran juga dikabarkan akan menghentikan pungutan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas, kebijakan yang selama ini jadi salah satu sumber gesekan diplomatik. "Setelah periode 30 hari, kapal dari semua negara akan dapat berlayar dengan bebas dan aman," begitu kutipan sumber diplomatik Timur Tengah dalam laporan Nikkei.
Kedua negara sebenarnya sudah mencapai gencatan senjata sementara sejak awal April lalu. Gencatan itu, menurut Nikkei, akan diperpanjang 60 hari untuk membuka ruang negosiasi lebih dalam, khususnya soal program nuklir Tehran dan normalisasi hubungan bilateral. Bukan kejutan total, melainkan kelanjutan dari proses yang sudah berjalan.
Qatar memilih jalan lain. Doha menegaskan tidak ada pengaturan khusus terkait ekspor energinya, sinyal bahwa negara Teluk tersebut tidak ingin terikat pada dinamika Iran-AS yang masih cair. Bisa jadi ini juga bentuk kehati-hatian Qatar sebagai eksportir LNG terbesar dunia, yang punya kepentingan besar menjaga stabilitas hubungan dagang dengan semua pihak.
Selat Hormuz bukan sekadar titik di peta. Jalur sempit yang memisahkan Iran dari Oman dan Uni Emirat Arab itu adalah chokepoint energi paling krusial di planet ini. Ketegangan di kawasan itu langsung tercermin di harga minyak mentah, dan pasar sudah cukup bergejolak dalam beberapa bulan terakhir.
Apakah kesepakatan ini akan benar-benar terwujud sesuai kerangka yang dilaporkan Nikkei? Itu pertanyaan yang belum bisa dijawab sekarang. Negosiasi nuklir Iran punya rekam jejak panjang yang penuh titik balik tak terduga, dan 60 hari bisa jadi waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan agenda sekompleks itu. Kalau prosesnya berjalan mulus, setidaknya itu klaim sumber-sumber diplomatik tersebut, ini bisa jadi momen redefinisi lanskap energi global yang sudah lama dinantikan pelaku pasar.