RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Serang Bahrain dan Yordania, Sekutu Teheran A...

Internasional

Iran Serang Bahrain dan Yordania, Sekutu Teheran Ancam Terjun ke Medan Perang

UEA mengecam keras serangan rudal dan drone Iran ke Bahrain serta Yordania, sementara Kata'ib Hezbollah Irak menyatakan siap terlibat langsung jika konflik meluas menjadi perang terbuka.

UEA Kecam Serangan Rudal dan Drone Iran ke Bahrain serta Yordania, Sebut Langgar Kedaulatan Negara

Serangan rudal dan drone Iran ke Bahrain dan Yordania memicu gelombang kecaman di kawasan, sekaligus mendorong sekutu-sekutu Teheran keluar dari keheningan dan bersuara lantang soal kesiapan tempur mereka.

Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) bereaksi dengan nada paling keras, menyebut serangan itu sebagai tindakan agresif yang tidak bisa dibenarkan. "Kami mengecam dengan sekeras-kerasnya serangan agresif terbaru Iran terhadap Kerajaan Bahrain dan Kerajaan Hasyimiyah Yordania yang dilakukan menggunakan rudal dan drone," demikian pernyataan resmi Kemlu UEA. Abu Dhabi turut menegaskan solidaritas penuh kepada kedua negara, menyatakan siap mendukung langkah apa pun yang diambil Bahrain dan Yordania untuk melindungi kedaulatan mereka.

Timur Tengah sedang tidak baik-baik saja. Eskalasi ini menyusul apa yang disebut sejumlah pihak sebagai kelanjutan tindakan militer AS di wilayah selatan Iran, yang kembali menghidupkan ketegangan antara Teheran dan Washington. Dalam konteks itulah pernyataan dari Kata'ib Hezbollah Irak terasa seperti bensin yang disiram ke bara.

Kepala Keamanan Kata'ib Hezbollah, Abu Mujahid al-Assaf, pada Selasa (14/7/2026) menegaskan bahwa kelompok-kelompok perlawanan di kawasan tidak akan berdiam diri. "Jika perang pecah terhadap Iran, maka partisipasi kelompok-kelompok perlawanan akan berlangsung segera dan secara tegas," kata Assaf, dikutip dari Mehr News. Ia menambahkan, "Keputusan ini didasarkan pada keyakinan dan prinsip perjuangan. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar dalam hal ini."

Bukan sekadar retorika pemanasan. Pola semacam ini sudah berulang: setiap kali Teheran merasa terjepit, kelompok proksi di Irak, Yaman, dan Lebanon bergerak hampir bersamaan, seperti jarum jam yang sudah diatur dari satu titik yang sama. Pertanyaannya, berapa lama sebelum ada pihak yang kehilangan kendali?

Bagi Bahrain dan Yordania, serangan ini bukan soal kerusakan fisik semata. Kedua negara punya hubungan erat dengan Washington dan duduk di dalam arsitektur keamanan kawasan yang berseberangan dengan Teheran, menjadikan mereka target yang strategis, bukan kebetulan. Menyerang mereka, bisa jadi, adalah cara Iran mengirim pesan ke AS tanpa harus berhadapan langsung.

UEA, yang berbagi perairan Teluk dengan Iran dan punya kepentingan ekonomi terlalu besar untuk dipertaruhkan, memilih sikap tegas. Solidaritas yang dinyatakan Abu Dhabi kepada Bahrain dan Yordania mencerminkan kekhawatiran kolektif negara-negara Teluk: stabilitas kawasan sedang diuji di titik paling rapuh. Entah kebetulan atau tidak, kecaman itu keluar hampir bersamaan dengan ancaman perang terbuka dari Kata'ib Hezbollah, menempatkan seluruh kawasan dalam posisi yang kian sulit diurai.