JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Sebut Kanada 'Tentara Kelas Dua' AS dalam Kon...

Internasional

Iran Sebut Kanada 'Tentara Kelas Dua' AS dalam Konflik Melawan Teheran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei melontarkan kritik pedas ke Ottawa, menyebut Kanada sebagai tentara kelas dua Washington yang ikut perang demi membalas tekanan tarif dan ancaman aneksasi dari AS.

Iran menuduh Kanada 'mengikuti jejak' AS dalam konflik dengan Teheran.

Dari Teheran, sindiran itu datang tanpa tedeng aling-aling. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut Kanada sebagai "tentara kelas dua Washington" lewat media sosial pada 16 Agustus, eh, bukan pakai em dash, setelah Ottawa dinilai mengikuti jejak AS dalam konflik yang melibatkan Teheran.

Baqaei mempertanyakan logika di balik posisi Kanada. Ottawa menghadapi tekanan bertubi-tubi dari Washington: Presiden Donald Trump pernah menyebut Kanada sebagai "negara bagian ke-51," tarif atas barang-barang Kanada diberlakukan, bahkan ancaman sanksi dikaitkan dengan isu kebakaran hutan. Namun Ottawa justru ikut melibatkan diri dalam apa yang disebut Baqaei sebagai "operasi militer ilegal pilihan AS" melawan Teheran. Bukan main ironinya.

Pertanyaan yang dilontarkan Teheran sederhana tapi menusuk: apa imbalan yang diterima Kanada? Baqaei secara terbuka mempertanyakan manfaat konkret yang mungkin diraup Ottawa dari keterlibatannya, pada saat hubungan AS-Kanada sendirinya sedang tidak baik-baik saja. Bagi para pengamat kebijakan luar negeri, framing ini agaknya disengaja untuk mempermalukan Ottawa di mata publik internasional, bukan sekadar kritik diplomatik biasa.

Konteksnya perlu dirunut. Maret 2026, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan Ottawa siap mendukung upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz, sinyal yang saat itu dibaca sebagai keselarasan dengan agenda AS di Timur Tengah. Belakangan, para pejabat Kanada berusaha menarik garis tegas: mereka mengklaim tidak pernah dimintai pendapat, tidak berpartisipasi, dan tidak berniat terlibat dalam operasi ofensif apa pun terhadap Iran.

Klarifikasi yang datang terlambat. Teheran jelas tidak puas, dan memilih menggunakan pernyataan itu sebagai amunisi retorika untuk memperlihatkan apa yang mereka sebut sebagai ketergantungan struktural Ottawa pada Washington dalam urusan keamanan dan kebijakan luar negeri.

Bagi Kanada, situasi ini ibarat pedang bermata dua. Terlalu dekat dengan AS, narasi "boneka Washington" akan terus dipakai Teheran untuk mendelegitimasi posisi Ottawa. Menjauh dari Washington, risiko gesekan dengan sekutu utama jadi taruhannya. Pertanyaannya, berapa lama Ottawa bisa menari di antara dua tuntutan itu? Sementara jawabannya belum ketemu, Teheran sudah lebih dulu menentukan narasi.