Rudal jelajah Iran tidak lagi hanya membidik instalasi militer. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa (21/7) mengumumkan pasukan dirgantaranya telah menyerang infrastruktur pusat data milik Amazon di Bahrain, mengklaim fasilitas raksasa teknologi AS itu hancur akibat serangan tersebut.
Klaim datang dari pernyataan resmi IRGC yang disiarkan Tasnim News Agency, kantor berita semi-resmi Iran, dan dikutip luas oleh Anadolu Agency. Hingga artikel ini diturunkan, belum ada respons dari pemerintah Bahrain, Amazon, maupun Washington. Klaim kerusakan pun belum bisa diverifikasi secara independen karena konflik masih berlangsung aktif.
Serangan di Bahrain hanya satu bagian dari operasi yang lebih luas. Dalam apa yang IRGC sebut sebagai gelombang ke-24 Operasi Nasr 2, Iran juga mengeklaim menyerang kompleks militer AS di kawasan Al-Rukban, Yordania timur laut. Sejumlah jet tempur F-15 di dalam hanggar disebut hancur, stasiun radar sistem pertahanan udara dilumpuhkan. Iran bahkan mengklaim sejumlah personel militer AS tewas dalam operasi itu, klaim yang sampai sekarang belum dikonfirmasi Yordania maupun Pentagon.
Di Kuwait, IRGC menyebut rudal dan drone mereka menghantam Pangkalan Udara Ali Al Salem: hanggar drone MQ-9 rusak, situs radar jarak jauh lenyap, pusat komunikasi dan sistem penerima satelit amblas. Di Bahrain, selain infrastruktur Amazon, Iran mengklaim fasilitas radar AS dan sistem pertahanan udara Patriot ikut dihajar.
Rentetan itu bukan tanpa konteks. Senin (20/7) malam, CENTCOM mengumumkan telah merampungkan gelombang serangan terbaru terhadap Iran. "Pasukan AS menyerang pusat komando militer, kemampuan maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, dan sistem pertahanan udara Iran untuk melemahkan kemampuan Iran dalam terus menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz," tulis CENTCOM di akun resmi mereka di X.
Iran membaca serangan itu sebagai pembenaran. Sebelumnya IRGC sudah memperingatkan Washington: jika AS terus menargetkan jembatan dan infrastruktur transportasi Iran, Teheran akan menyerang "aset-aset terpenting di bidang industri, teknologi informasi, dan kecerdasan buatan milik perusahaan-perusahaan yang memiliki pemegang saham asal Amerika" di seluruh negara yang menampung pangkalan militer AS. Serangan ke pusat data Amazon adalah eksekusi dari ancaman itu. Bukan gertakan.
Yang bikin situasi ini agaknya lebih mengkhawatirkan adalah soal timing. Kedua negara sudah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu, sebuah kesepakatan yang diharapkan menjadi jembatan menuju perjanjian damai permanen. Proposal itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade pelabuhan Iran, dan penghentian sanksi ekspor minyak Iran. Paket yang cukup komprehensif, kalau data ini bisa dipercaya. Tapi tinta MoU belum kering, kedua pihak sudah kembali saling menggempur.
Dari sisi korban, gambaran yang muncul kian suram. New York Times, mengutip sejumlah pejabat AS, melaporkan puluhan personel militer AS terluka dalam serangan rudal dan drone Iran di Yordania pekan lalu, angka yang jauh di atas apa yang Pentagon sampaikan secara terbuka. Juru bicara Pentagon Sean Parnell membantah militer menyembunyikan jumlah korban, tapi tetap enggan merinci lokasi sejumlah serangan maupun sejauh mana kemampuan pertahanan udara AS terdampak.
Sejak konflik kembali pecah pada 28 Februari, data kumulatif mencatat setidaknya 17 personel AS tewas dan 427 lainnya luka-luka. Di antara yang gugur, dua prajurit yang identitasnya sudah dikonfirmasi: Tyler James Feehan, 25 tahun, asal Hawaii, dan Isabella Gonzales, 19 tahun, asal Texas. Korban ketiga meninggal di Irak utara saat melakukan peledakan terkendali terhadap sisa drone Iran yang berhasil dijatuhkan.
Tekanan diplomatik mulai datang dari penjuru lain. Dalam pertemuan menteri luar negeri ASEAN ke-59 di Manila, para menlu kawasan mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan kedua pihak menahan diri. Eskalasi ini, menurut mereka, berpotensi menggagalkan upaya mediasi Pakistan dan Qatar sekaligus membuka risiko konflik regional yang jauh lebih luas. Pertanyaannya, berapa lama mediasi itu masih punya nyawa?
Bagi pelaku pasar, serangan ke infrastruktur cloud Amazon di Bahrain adalah preseden yang bisa mengubah kalkulasi risiko geopolitik secara fundamental. Bukan hanya instalasi militer yang kini jadi sasaran, tapi tulang punggung digital ekonomi global. Dan itu, entah kebetulan atau tidak, persis seperti yang Iran ancamkan sejak awal.