SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Pasca-Khamenei: Duka Massal, Mojtaba, dan Mej...

Internasional

Iran Pasca-Khamenei: Duka Massal, Mojtaba, dan Meja Perundingan Swiss

Iran mempersiapkan pemakaman kolosal untuk Ayatollah Khamenei dengan 20 juta pelayat dan puluhan delegasi asing, sementara pemerintahan Pezeshkian menegaskan jalur diplomasi tetap terbuka meski warisan sang pemimpin adalah resistensi tanpa kompromi.

Presiden Iran Tegaskan Warisan Pemimpin Syahid: Rakyat Tidak Akan Tunduk pada Tekanan Asing

Dua puluh juta orang. Target itu bukan proyeksi, bukan, maaf, em dash, target itu angka resmi yang disiapkan otoritas Iran untuk melepas kepergian Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, dalam apa yang sudah ramai disebut sebagai pemakaman terbesar abad ini.

Puluhan delegasi asing dijadwalkan hadir. Kematian Khamenei bukan sekadar urusan dalam negeri, ini peristiwa geopolitik. Negara-negara yang selama ini bermain di orbit Teheran, dari Moskow hingga Beirut, akan mengirim wakilnya untuk memastikan posisi mereka terlihat oleh siapa pun yang akan mengisi kekosongan berikutnya.

Nama yang paling ramai diperbincangkan: Mojtaba Khamenei, putra sang pemimpin yang selama ini sengaja menjauh dari sorotan publik. Kemunculannya di prosesi pemakaman agaknya akan menjadi sinyal pertama ihwal ke mana angin suksesi berhembus. Bagi pengamat politik Timur Tengah, momen itu bisa lebih bermakna dari pidato resmi mana pun. Lebih bermakna, dan lebih jujur.

Di tengah duka yang menyelimuti Teheran, Presiden Masoud Pezeshkian justru memilih momen ini untuk menegaskan posisi pemerintahannya, baik ke dalam maupun ke luar negeri. Lewat unggahan di platform X, ia menyebut bahwa rakyat Iran telah mewarisi satu prinsip fundamental dari para pemimpin revolusi: tidak pernah menyerah terhadap tekanan atau penghinaan dari pihak luar. Bukan retorika kosong, mengingat konteksnya adalah konflik yang baru saja melibatkan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Namun di paragraf berikutnya, Pezeshkian berbicara tentang meja perundingan di Swiss. Nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan ditandatangani di sana pada Jumat mendatang, sebuah langkah yang ia sebut sebagai pintu masuk menuju penghentian konflik dan dimulainya negosiasi yang lebih substansial. "Kesepahaman ini merupakan langkah penting menuju penghentian perang dan dimulainya negosiasi," ujarnya.

Dua pesan dalam satu hari. Satu soal martabat dan resistensi, satu lagi soal ruang diplomasi. Bisa jadi memang dirancang demikian, atau memang itulah dilema yang harus ditanggung pemerintahan Pezeshkian: mewarisi retorika Khamenei sekaligus mencari jalan keluar dari isolasi yang melelahkan. Pertanyaannya, sampai kapan dua pesan itu bisa berdampingan tanpa saling membentur?

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sudah memberi sinyal bahwa perundingan komprehensif baru akan dimulai setelah nota kesepahaman itu resmi diteken. Apa yang terjadi di Swiss pekan ini bukan kesepakatan final, melainkan prolog. Kalau data sejarah bisa dipercaya, jalur diplomatik Teheran-Washington punya riwayat panjang yang lebih sering berakhir dengan kekecewaan ketimbang seremoni penandatanganan.

Pezeshkian sendiri mengakui itu. "Pemerintah akan terus bekerja melayani rakyat, baik negosiasi menghasilkan kesepakatan maupun tidak," tegasnya. Kalimat yang terdengar seperti antisipasi sekaligus penyelamatan muka jika perundingan kembali kandas.

Iran hari ini berdiri di persimpangan yang jarang terjadi: pemimpin tertinggi wafat, suksesor belum jelas, konflik bersenjata baru saja pecah, dan meja diplomasi kembali dibuka. Ruwet. Bagi investor yang punya exposure ke kawasan atau komoditas energi, kombinasi variabel itu cukup untuk membuat asumsi skenario apa pun terasa prematur.