MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Pasang Lima Syarat Keras Sebelum Mau Kembali...

Internasional

Iran Pasang Lima Syarat Keras Sebelum Mau Kembali ke Meja Perundingan dengan AS

Teheran menegaskan tidak akan melanjutkan perundingan damai putaran kedua dengan Washington sebelum lima tuntutan dipenuhi, mulai dari pencabutan sanksi hingga pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz.

Iran ajukan lima syarat untuk perundingan kedua dengan AS - ANTARA News Gorontalo

Perundingan damai Iran-AS kembali mentok.

Teheran menegaskan tidak akan bergerak ke putaran negosiasi berikutnya dengan Washington sebelum lima syarat yang mereka sebut "jaminan minimum" dipenuhi lebih dulu. Pernyataan itu keluar lewat kantor berita Fars, mengutip sumber yang mengetahui langsung posisi Iran dalam perundingan.

Lima tuntutan itu tidak enteng: mengakhiri perang di semua front, khususnya Lebanon; pencabutan sanksi; pencairan aset Iran yang dibekukan; kompensasi atas kerusakan perang; serta pengakuan formal atas hak kedaulatan Iran di Selat Hormuz. Bagi Teheran, ini bukan daftar keinginan. Ini tiket masuk untuk sekadar kembali ke meja.

Konteksnya perlu dipahami. Konflik berakar dari serangan gabungan Amerika dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang memicu serangkaian eskalasi balasan, termasuk serangan Iran ke Israel dan sekutu AS di Teluk Persia, hingga blokade Selat Hormuz. Gencatan senjata baru tercapai pada 8 April lewat mediasi Pakistan. Negosiasi lanjutan di Islamabad pun digelar, tapi gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu.

Yang bikin suasana makin keruh: blokade laut AS di Laut Arab dan Teluk Oman ternyata masih berjalan bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan. Iran mengadu kepada Pakistan selaku mediator, menyebut langkah AS itu justru menggerogoti kepercayaan Teheran terhadap niat baik Washington.

Sebelumnya AS sudah lebih dulu mengajukan proposal perdamaian 14 poin. Rinciannya tidak diungkap ke publik, tapi laporan menyebut proposal itu mencakup nota kesepahaman satu halaman untuk menghentikan pertempuran sekaligus menetapkan kerangka negosiasi soal program nuklir Iran. Teheran menilai tawaran itu "sepenuhnya sepihak", upaya Washington mengamankan tujuan perang yang gagal dicapai di medan tempur, kali ini lewat jalur diplomasi.

Iran lalu merespons dengan lima syarat tadi. Trump menyebut respons itu "bodoh" dan "sampah". Bukan kali pertama ia pakai diksi seperti itu untuk Teheran.

Tapi Iran tidak surut. Perunding utama Mohammad Bagher Ghalibaf justru mengeluarkan ultimatum: AS tidak punya pilihan selain menerima syarat Iran, atau bersiap menghadapi "kegagalan". Pemerintah Iran secara eksplisit menolak segala gagasan merevisi proposalnya. Keras.

Gencatan senjata yang berjalan sejak April kini, menurut Trump sendiri, berada dalam "kondisi kritis". Entah kebetulan atau tidak, pernyataan itu keluar persis ketika kedua pihak saling mengunci posisi masing-masing.

Bagi investor yang mencermati dinamika Timur Tengah, ini sinyal yang tidak bisa diabaikan. Selat Hormuz adalah jalur bagi sekitar sepertiga perdagangan LNG dunia dan sebagian besar ekspor minyak Teluk. Selama tuntutan soal kedaulatan atas selat itu belum juga kelar dibahas, risiko geopolitik di kawasan tetap menggantung, dan pasar energi global pun ikut was-was.