Peringatan keras keluar dari Teheran. Analis politik senior Iran Mohammad Javad Larijani menegaskan bahwa setiap pangkalan militer NATO yang digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran, baik di kawasan maupun di luar kawasan, akan dipandang sebagai target sah oleh Republik Islam Iran.
Larijani menyampaikan pernyataan itu dalam program televisi pemerintah Iran, Goftogu-ye Vizheh-ye Khabari, Minggu malam. Bukan sekadar pidato diplomatik biasa. Pernyataan ini muncul saat ketegangan agaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah serangkaian serangan udara AS ke fasilitas militer Iran di Khuzestan beberapa pekan terakhir.
Yang membedakan pernyataan Larijani dari retorika perang biasa bukan ancaman militernya saja, melainkan kerangka pikir di baliknya. Ia bicara soal kesiapan ekonomi masa perang, sesuatu yang jarang diucapkan terbuka oleh pejabat Iran di depan publik. Ketahanan nasional, tegasnya, tidak boleh hanya bertumpu pada kemampuan angkatan bersenjata. Pemerintah harus menjamin ketersediaan kebutuhan pokok, menjaga keberlangsungan produksi, mengelola sistem moneter, dan mempertahankan stabilitas ekonomi bahkan ketika peluru sudah beterbangan.
Soal pendanaan, Larijani menepis kekhawatiran bahwa Iran akan lumpuh begitu pendapatan minyaknya tergerus. Washington, katanya, keliru jika mengira sanksi atau blokade cukup untuk melumpuhkan Teheran. Klaim yang patut dicermati, mengingat tekanan ekonomi terhadap Iran sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Tapi pesannya jelas: Teheran mengaku siap bertahan dalam konflik berkepanjangan hingga tiga sampai empat tahun.
Dari jajaran komandan, nada serupa bergema. Mayor Jenderal Safavi menegaskan musuh tidak mampu melemahkan pertahanan Iran. Rezaei menggunakan diksi yang lebih keras. "Ini perang," ujarnya, dalam pernyataan yang beredar luas. Bukan ketegangan geopolitik biasa. Pertanyaannya bukan lagi apakah konflik sedang berlangsung, melainkan seberapa jauh masing-masing pihak bersedia mendorongnya.
Larijani juga memberi kredit kepada Poros Perlawanan, khususnya kelompok di Lebanon, yang disebutnya berkontribusi menjaga tekanan terhadap pihak lawan sekaligus memperkuat posisi Iran secara strategis. Teheran, sekali lagi, menegaskan bahwa jaringan proksi tetap jadi perpanjangan tangan militernya di luar perbatasan.
Bagi investor dan pelaku pasar yang memantau kawasan, retorika semacam ini tidak bisa dibaca terpisah dari dinamika Selat Hormuz dan jalur energi global. Setiap eskalasi yang menyeret pangkalan NATO, terutama yang beroperasi dari negara-negara Teluk, berpotensi mengguncang pasokan minyak dunia dalam hitungan jam. Iran, entah kebetulan atau tidak, seperti sedang memastikan semua pihak paham betul apa taruhannya.