RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Makin Percaya Diri, Konflik dengan AS di Timu...

Internasional

Iran Makin Percaya Diri, Konflik dengan AS di Timur Tengah Belum Ada Ujungnya

Intelijen AS menilai Iran semakin yakin dengan kemampuan serang mereka dan bertekad melanjutkan konflik. Di sisi lain, Angkatan Laut AS dilaporkan menghadapi tekanan logistik serius di kawasan.

Middle East: US Force Projection and Iranian Calculus

Enam bulan setelah AS dan Israel mulai melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari, konflik yang awalnya diharapkan cepat reda justru menunjukkan tanda-tanda sebaliknya.

Data intelijen terbaru AS, yang pertama kali dilaporkan The New York Times pada Jumat (4/9/2026), memuat penilaian yang cukup mengkhawatirkan: Iran bukan hanya bertahan, tapi semakin percaya diri. Teheran dinilai kian yakin dengan kemampuannya menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, dan bertekad melanjutkan permusuhan selama berbulan-bulan. Asesmen ini bukan bocoran kamar belakang. Ini penilaian resmi komunitas intelijen AS yang dikutip beberapa pejabat Washington, sebagaimana dilansir Sputnik via Antara.

Gubernur Teheran blak-blakan soal kondisi ibu kota selama enam bulan terakhir, menyebut situasi yang dihadapi rakyat Iran sebagai "luar biasa" dalam segala sisi. Pengakuan yang jarang keluar dari pejabat tinggi Republik Islam itu. Agaknya tekanan domestik justru mempertebal tekad pemerintah pusat untuk tidak terlihat menyerah di hadapan Washington.

Perjalanan konflik ini berliku. Pertengahan Juni, kedua pihak sempat menandatangani nota kesepahaman yang seharusnya menghentikan permusuhan. Harapan itu berumur pendek. Tidak lama setelah tinta mengering, serangan sporadis kembali terjadi dari kedua sisi. Presiden Trump sendiri, awal pekan ini, mengaku tidak tahu kapan konflik ini berakhir. Pernyataan yang bisa dibaca sebagai kejujuran atau frustrasi, tergantung dari mana kamu melihatnya.

Diplomasi macet, Washington memilih jalur tekanan ekonomi. Sanksi dan jeratan finansial diperketat sebagai instrumen untuk memaksa Teheran duduk di meja perundingan dengan syarat yang bisa diterima AS. Belum ada indikasi memadai bahwa Iran siap memenuhi tuntutan Washington, apalagi sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November.

Di lapangan, Angkatan Laut AS dilaporkan dihajar krisis logistik yang tidak kecil di Timur Tengah. Operasi militer berbulan-bulan di kawasan yang jauh dari pangkalan utama, dengan ancaman serangan balasan yang terus berulang, menggerus rantai pasokan dan kesiapan armada. Variabel ini jarang masuk berita utama. Tapi bagi analis pertahanan, tekanan logistik adalah indikator paling jujur tentang seberapa lama sebuah angkatan bersenjata bisa bertahan di garis depan. Pertanyaannya, sampai kapan?

Konflik AS-Iran kini memasuki fase yang sebagian kalangan militer sebut "war of attrition", perang gerus-gerasan yang tidak menentukan siapa menang, tapi siapa yang lebih cepat kelelahan. Iran, dengan segala tekanan ekonomi dan kondisi domestik yang berat, rupanya belum angkat bendera. Washington, dengan tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu, punya kalkulasi tersendiri tentang kapan dan bagaimana keluar dari sengkarut ini. Bak pedang bermata dua: bertahan terlalu lama bikin domestik mendidih, mundur terlalu cepat bikin muka merah.