Teheran sedang main dua front sekaligus: melawan tekanan ekonomi yang kian mencekik dari Washington, sambil melempar sinyal militer yang provokatif ke udara.
Abd al-Nabi Musavi Fard, perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran, pekan lalu menyebut dalam khotbah Jumat bahwa Iran berencana memproduksi rudal balistik berjangkauan hingga 15.000 kilometer. Cukup, kata dia, untuk menjangkau kota-kota di AS langsung dari tanah Iran. Pernyataan itu segera menghebohkan kalangan pengamat pertahanan, bukan karena dianggap serius secara teknis, tapi karena momennya yang dipilih dengan cermat.
Secara kemampuan nyata, Iran masih jauh dari sana. Khorramshahr, rudal balistik paling jangkau yang mereka miliki, hanya mampu menyentuh sekitar 4.000 kilometer. Untuk menghantam Washington atau New York dari wilayah Iran dibutuhkan jangkauan minimal 10.000 kilometer. Lompatan dari rudal jarak menengah ke sistem antarbenua bukan sekadar persoalan lebih banyak bahan bakar, ini soal teknologi reentry vehicle, propulsi bertahap, dan sistem panduan yang seluruhnya masih jadi dinding besar.
Yang membuat rencana ini agaknya bukan gertakan kosong belaka: Iran punya jalur akses ke teknologi Korea Utara. Khorramshahr sendiri dikembangkan berbasis Hwasong-10 milik Pyongyang, yang akarnya bisa dilacak hingga rudal balistik Soviet R-27. Korut memang telah mengklaim beberapa sistem antarbenua dengan jangkauan 15.000 kilometer atau lebih. Transfer teknologi lintas rezim pariah ini, entah kebetulan atau tidak, selalu bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan komunitas intelijen Barat.
Sementara retorika militer mengudara, di darat Iran sedang babak belur. Blokade angkatan laut AS telah menghajar ekspor minyak dari Pulau Kharg hingga mendekati nol pada Juli lalu. Cadangan minyak terapung Iran menyusut dari 180 juta barel menjadi sekitar 60 juta barel. Angka yang tidak main-main. Inflasi tahunan menembus 80 persen lebih, IMF memproyeksikan kontraksi ekonomi 5,4 persen tahun ini, dan nilai tukar riyal Iran sudah di titik yang Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebut sebagai "jurang kehancuran."
Iran merespons dengan mode survival penuh. Penjatahan listrik bergilir untuk industri, pencetakan uang untuk menutup gaji pegawai negeri, subsidi mata uang asing senilai 3,5 miliar dolar AS untuk mengamankan impor gandum, obat-obatan, dan susu formula bayi. Di tingkat rumah tangga, warga mulai memangkas konsumsi daging, menunda aktivitas non-esensial, dan beralih ke skema pembelian bahan pokok berbasis kredit.
"Tekanan ini secara bertahap akan menggeser Iran dari ekonomi tangguh yang mampu menyerap guncangan, menuju ekonomi bertahan hidup yang tetap berfungsi tapi secara perlahan kehilangan kapasitasnya untuk pulih," kata Hadi Kahalzadeh, peneliti non-residen di Quincy Institute dan mantan pejabat di Organisasi Jaminan Sosial Iran. Represi dan struktur negara, sambungnya, mempersulit penderitaan itu untuk diterjemahkan menjadi tekanan yang cukup kuat untuk mengubah keputusan keamanan nasional.
Kubur harapan bahwa kesengsaraan ekonomi otomatis menghasilkan kapitulasi politik. Sejarah sudah berulang kali membuktikan sebaliknya. Di Kuba pasca-revolusi 1959 dan Venezuela dalam beberapa dekade terakhir, rezim bertahan lewat represi dan patronase meski ekonomi ambruk telak. Perombakan kepemimpinan terbaru di Teheran justru memperkuat faksi garis keras veteran, menggeser kaum teknokrat dan pragmatis ke pinggir. Ruang untuk kompromi makin sempit, bukan sebaliknya.
Pertanyaannya, berapa lama kebuntuan ini bisa ditanggung kedua pihak?
"Saya semakin melihat ini sebagai kontes kecepatan yang salah perhitungan," ujar Kahalzadeh. Washington mungkin benar bahwa tekanan ekonomi yang berkepanjangan pada akhirnya akan membatasi Iran. Teheran mungkin benar bahwa konflik panjang akan menciptakan beban politik yang kian besar bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu. Tapi kedua pihak bisa sama-sama keliru soal seberapa cepat tekanan itu benar-benar jadi penentu.
Kebuntuan Selat Hormuz terus membayangi pasokan energi global. Kalau kalkulasi kedua negara ini meleset, biayanya tidak akan ditanggung para pemimpin di Washington atau Teheran seorang diri.