Sebelum rudal Iran menyasar pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, ada yang lebih dulu bergerak: sistem pengintaian siber yang menumpang celah di jaringan telepon seluler global.
Laporan Financial Times yang terbit Selasa (14/7/2026) mengungkap Iran diduga meretas jaringan seluler di sejumlah negara kawasan untuk melacak posisi personel dan kontraktor Amerika Serikat secara real-time. Sumber laporan ini berasal dari data proyek riset Mobile Surveillance Monitor serta pejabat anonim yang mengetahui langsung kampanye mata-mata tersebut.
Senjata utamanya adalah SS7, alias Signaling System 7. Protokol pensinyalan lawas ini menjadi tulang punggung konektivitas antar-jaringan seluler global sejak era 2G dan 3G, dirancang untuk mengarahkan panggilan dan teks saat pengguna roaming di luar jaringan asalnya. Jika dieksploitasi, SS7 bisa mengungkap perkiraan lokasi ponsel secara presisi tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Gary Miller, peneliti senior di Citizen Lab yang menelaah data tersebut, tak membuang banyak kata. "Iran benar-benar memiliki kemampuan untuk mendapatkan informasi lokasi secara real-time, langsung, dan berkelanjutan," katanya. Ia menambahkan, akan sangat mengherankan jika Teheran tidak memanfaatkan SS7 atau akses jaringan seluler kawasan untuk melacak pengguna AS.
Operasi ini bukan tanpa konteks. Peretasan berlangsung beberapa minggu sebelum operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, lalu berlanjut setelah Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan. Data lokasi itu agaknya bukan sekadar dikumpulkan untuk arsip intelijen. Lebih dari itu, data tersebut digunakan untuk merencanakan dan mengeksekusi serangan yang menargetkan personel di markas sementara mereka, termasuk di hotel dan instalasi militer di Irak serta Bahrain.
Seorang pejabat Teluk yang dikutip FT mencurigai Iran atau proksi-nya memanfaatkan perjanjian roaming dengan operator lokal untuk menyusup ke jaringan. Teknik lama. Bukan novum di dunia intelijen. Kerentanan SS7 sudah bertahun-tahun diperingatkan komunitas keamanan siber global, tapi pembaruan infrastruktur bergerak lambat karena memperbarui protokol warisan sekelas SS7 itu kompleks dan mahal.
Ada dimensi kedua yang membuat temuan ini lebih mengkhawatirkan. Selain mengeksploitasi infrastruktur telekomunikasi, aktor yang terafiliasi dengan Iran juga diduga menyalahgunakan basis data iklan ponsel pintar, atau yang dikenal di industri sebagai ad tech, untuk mengidentifikasi lokasi perangkat di wilayah Kurdistan semi-otonom di Irak. Platform periklanan digital secara rutin menyedot data lokasi dari ponsel untuk menyajikan iklan bertarget. Data ini, secara legal maupun ilegal, bisa dibeli atau diakses pihak ketiga tanpa harus meretas perangkat secara langsung.
Kombinasi SS7 dan ad tech mencerminkan eskalasi cara negara-negara mengeksploitasi infrastruktur sipil sehari-hari untuk keperluan militer dan spionase. Para anggota parlemen AS yang mendapat briefing soal ini dilaporkan khawatir, memperingatkan bahwa sistem roaming serta teknologi iklan seluler kini jadi titik buta keamanan yang nyata bagi personel di lapangan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Iran punya kemampuan ini. Pertanyaan yang lebih menggigit: sudah berapa lama kemampuan itu digunakan, dan siapa saja yang sudah terlacak tanpa pernah tahu?