Sebuah proyektil melesat, menghantam badan drone di udara, lalu meledak. Begitulah cuplikan video yang diunggah Sepah, media resmi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pada 19 Juli lalu, memperlihatkan momen jatuhnya drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di perairan Assaluyeh, Provinsi Bushehr.
Video itu bukan sekadar materi propaganda. Rekaman tersebut menampilkan sistem optik pertahanan udara IRGC yang mengunci target, melepaskan proyektil, lalu memperlihatkan puing-puing drone yang dikumpulkan dari permukaan laut menggunakan perahu sipil. Penembakan dilakukan oleh unit angkatan laut IRGC. Cukup gamblang.
Di front berbeda, media Iran melaporkan gelombang ke-22 Operasi Nasr 2 menghantam hanggar penyimpanan MQ-9 di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait. Drone-drone yang tersimpan di dalam dilaporkan terbakar hangus dan keluar dari siklus operasional. Farsnews Agency, yang pertama melaporkan serangan ini, menyebut kerugian material dari satu insiden tersebut saja mencapai puluhan juta dolar.
Angka itu bukan lebay. Satu unit MQ-9 Reaper dibanderol sekitar US$32 juta, atau setara Rp520 miliar. Bukan drone mainan.
MQ-9 Reaper yang dikembangkan General Atomics pada awal 2000-an dan resmi beroperasi bersama Angkatan Udara AS sejak 2007 bukan sekadar alat pengintai biasa. Panjangnya hampir 11 meter, bentang sayapnya 20 meter. Mampu membawa hingga 1,7 ton persenjataan berpemandu, termasuk rudal, bom, dan roket presisi. Ketinggian terbang mencapai 7.500 meter saat bersenjata, daya tahan di udara hingga 14 jam, jangkauan operasional sekitar 1.800 kilometer. Platform yang agaknya sulit dicari gantinya dalam waktu singkat.
Pertanyaannya, berapa mahal sebenarnya kehilangan satu unit ini? Farsnews menilai dampaknya tidak bisa diukur semata dari nilai material. Ketika satu MQ-9 lenyap, AS kehilangan salah satu simpul terpenting dalam jaringan intelijen, pengawasan, dan pengintaian di kawasan. Sensor, sistem komunikasi, kapasitas transmisi data real-time yang terintegrasi dalam satu platform itu tidak bisa begitu saja ditambal oleh aset lain.
Yang bikin laporan Iran ini layak dicermati lebih serius adalah polanya yang berulang. Bukan pertama kali MQ-9 jadi sasaran. Dalam Operasi Janji Sejati 4 dan beberapa tahapan Operasi Nasr sebelumnya, sejumlah unit MQ-9 dilaporkan sudah dihancurkan. Farsnews menyebut ini bukan kebetulan, melainkan strategi yang disengaja: melemahkan kemampuan intelijen dan respons cepat AS di kawasan secara bertahap, sambil sekaligus mempermalukan Washington lewat kerugian finansial yang terus menumpuk.
Klaim-klaim dari media resmi Iran, entah kebetulan atau tidak, selalu datang berlapis dan sulit diverifikasi secara independen. Angka kerugian yang dikomunikasikan Teheran selama konflik kerap perlu dibaca dengan cadangan skeptisisme. Tapi video penembakan di Assaluyeh yang sudah beredar luas itu klaim yang sulit dibantah begitu saja.
Bagi Washington, kehilangan armada MQ-9 secara bertahap bukan sekadar soal anggaran pertahanan yang jebol. Ini soal mata dan telinga operasi militer AS di Timur Tengah yang satu per satu padam.