Juru Bicara Militer Iran Brigjen Mohammad Akraminia tidak memilih kata-kata diplomatis ketika berbicara kepada Kantor Berita Mehr, Rabu (27/8). Ia menyebut bahwa perang yang mungkin meletus antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi menyeret arena-arena baru ke dalam konflik, termasuk Selat Bab al-Mandab dan pangkalan-pangkalan militer AS di Suriah, dua titik yang sebelumnya berada di luar cakupan pertempuran langsung.
"Perang yang mungkin terjadi di masa depan dapat meluas ke arena-arena baru," tegasnya. Akraminia juga memperingatkan bahwa kalkulasi keliru dari pihak lawan akan memicu respons langsung, sekaligus memperluas cakupan geografis konflik. Infrastruktur energi dan komunikasi kawasan, katanya, bisa ikut terseret. Pernyataan ini bukan muncul di ruang hampa.
Pada waktu yang hampir bersamaan, komandan-komandan lapangan Iran unjuk gigi di titik-titik rawan. Di perbatasan timur laut, Komandan Angkatan Darat Brigjen Ali Jahanshahi turun langsung meninjau kesiapan tempur satuan-satuannya. Sasaran peringatannya spesifik: kelompok takfiri dan unsur yang dianggap bermusuhan dengan Tehran, yang disebutnya bercokol di seberang perbatasan. Kemampuan intelijen Angkatan Darat, klaim Jahanshahi, sudah mampu membaca rencana operasi lawan sebelum tahap pelaksanaan dimulai. Klaim yang masih perlu dibuktikan, tapi bunyinya cukup serius.
Satuan bergerak dan pasukan reaksi cepat telah ditempatkan sepanjang perbatasan timur laut, dilengkapi persenjataan baru yang disesuaikan untuk menghadapi beragam jenis ancaman. Soal drone, Jahanshahi menyebut drone serang Arash telah digunakan untuk menyerang sejumlah sasaran dan pangkalan pasukan AS di kawasan dalam perang terakhir. Posisi dan pangkalan pihak yang dianggap mengancam, kata dia, sudah masuk jangkauan drone dan artileri Iran. Tidak tanggung-tanggung.
"Perbatasan Republik Islam Iran adalah garis merah bagi Angkatan Bersenjata. Setiap pelanggaran dan agresi terhadap tanah suci Iran akan dihadapi dengan respons yang lebih kuat daripada sebelumnya," ujar Jahanshahi.
Rangkaian pernyataan ini membentuk pola yang sulit diabaikan. Iran sedang berbicara dari beberapa mulut sekaligus, dengan pesan yang intinya sama: eskalasi dari pihak lawan akan dibalas dengan memperluas front konflik, bukan mempersempitnya. "Saat ini, ancaman tersebar di seluruh kawasan dan kami memiliki kemampuan untuk menghadapi serta mengatasinya," kata Akraminia. Keras, tapi bukan tanpa kalkulasi.
Tekanan ekonomi Washington terhadap Tehran dilaporkan terus diperketat, menambah ketegangan yang sudah melampaui titik didih. Bagi pelaku pasar yang mengawasi harga energi global, pernyataan soal infrastruktur energi yang bisa menjadi sasaran konflik adalah sinyal yang tak bisa dianggap sekadar retorika. Selat Bab al-Mandab dan Hormuz adalah dua titik tercekik yang menentukan berapa harga minyak pagi ini di bursa komoditas London. Pertanyaannya, berapa lama pasar masih bisa menganggap ini gertakan?