MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran: Kartu Andalan Belum Dibuka, Rakyat Adalah Bo...

Internasional

Iran: Kartu Andalan Belum Dibuka, Rakyat Adalah Bom Atom Kami

Pejabat militer senior Iran menegaskan negara itu belum mengerahkan seluruh kemampuan tempurnya, dan menyatakan siap menghadapi konfrontasi bahkan jika NATO turut terjun ke medan perang.

Iran Klaim Belum Gunakan Semua Senjata Andalannya - News+ on RCTI+

Brigadir Jenderal Mohammad Jafar Asadi tidak berbicara dengan nada defensif. Wakil Inspektur Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya itu justru terkesan santai ketika menyebut bahwa Iran, sampai hari ini, belum benar-benar membuka tangan penuhnya.

"Kami telah mengatakan berkali-kali bahwa kami belum mengungkapkan semua kartu andalan kami, dan ada banyak kartu yang akan kami gunakan jika diperlukan," ujar Asadi dalam wawancara yang dirilis belakangan ini. Pernyataan itu muncul sebagai respons langsung atas serangkaian laporan media Barat dan pejabat Washington yang menggambarkan kapabilitas pertahanan Teheran mulai compang-camping.

Konteksnya penting dipahami. Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran mengklaim telah merespons dengan setidaknya 100 gelombang pembalasan sebelum Washington mengumumkan jeda dua minggu, yang kemudian diperpanjang menjadi gencatan senjata. AS disebut kini berupaya memberlakukan blokade laut untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz, yang ditutup Teheran sebagai langkah retaliasi. Dalam situasi inilah pernyataan Asadi perlu dibaca.

Soal industri pertahanan, klaimnya percaya diri. Asadi memastikan fasilitas produksi militer Iran beroperasi normal, tidak tersentuh intelijen asing, termasuk AS maupun Israel. Lokasi pabrik senjata diklaim tersembunyi sepenuhnya, sehingga musuh tidak memiliki peta akurat untuk menyerang. Kalau data ini bisa dipercaya, strategi ambiguitas semacam ini memang klasik dalam doktrin pencegahan.

Yang paling menohok adalah bagaimana Asadi mendefinisikan "senjata pamungkas" Iran. Bukan rudal balistik, bukan drone kamikaze, dan secara eksplisit bukan senjata nuklir. "Angkatan Bersenjata kita tidak membutuhkan bom atom. Senjata pamungkas dan bom atom kita adalah rakyat itu sendiri, rakyat yang telah turun ke jalan dan alun-alun selama lebih dari sembilan puluh malam," tegasnya. Framing yang tak biasa: mobilisasi sipil dikemas sebagai aset strategis, bukan sekadar retorika nasionalis.

Terhadap ancaman koalisi Barat, Asadi merujuk sejarah. Sejak Revolusi Islam, Amerika dan NATO berulang kali berhadapan dengan Teheran, termasuk dalam perang delapan tahun yang bahkan melibatkan Uni Soviet, tapi tidak berhasil mencapai apa yang mereka inginkan. "Bahkan jika NATO bergabung dalam medan perang ini, kami tidak khawatir sama sekali," lanjutnya. Bukan main.

Satu kalimat Asadi barangkali paling menggambarkan posisi Teheran saat ini. "Amerika hanya menginginkan penyerahan total kita, dan bangsa Iran tidak akan pernah menyerah. Ketika penyerahan diri tidak mungkin dilakukan, perang akan terjadi. Jadi kami siap."

Negosiasi dengan AS memang sedang berjalan, tapi Asadi dingin soal itu. Ia menilai pembicaraan tersebut tidak akan menyelesaikan persoalan ekonomi rakyat Iran, setidaknya itu pandangan pihak militer, dan mengesankan bahwa jalur diplomasi bukan prioritas utama dalam kalkulasi pertahanan Teheran.

Pernyataan Asadi bisa dibaca dua cara: sinyal deterrence yang terukur, atau gertakan yang memang didesain untuk konsumsi dalam negeri. Pasar energi global, yang sudah deg-degan dengan posisi Selat Hormuz, agaknya tidak akan berhenti mencermati ke mana arah angin ini bertiup.