Pembangkit listrik Shuaiba Utara di Kuwait kini tidak lebih dari puing. Fasilitas yang selama ini memproduksi 876 megawatt listrik dan sekitar 45 juta galon air tawar per hari itu hancur total setelah menjadi sasaran serangan pada Sabtu (18/7/2026) dini hari, keluar sepenuhnya dari jaringan operasional negara.
Bukan insiden tunggal. Serangan itu bagian dari gelombang gempuran Iran yang lebih besar, menyasar Kuwait, Bahrain, dan Yordania secara bersamaan, tepat setelah militer AS menggempur sasaran di Iran untuk malam ketujuh berturut-turut. Eskalasi ini terjadi sepekan setelah gencatan senjata antara Washington dan Teheran runtuh.
Dampak di Kuwait berlapis. Selain Shuaiba Utara, serangan Iran juga menghantam fasilitas desalinasi air lain, menjadikan ini gempuran kedua terhadap infrastruktur air Kuwait dalam dua hari terakhir. Bandara Internasional Kuwait sempat mati operasional. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang Camp Arifjan, pusat dukungan militer AS di Kuwait, serta menghancurkan fasilitas radar di Pangkalan Udara Ali Al Salem. Kuwait Petroleum Corporation mengonfirmasi salah satu fasilitas minyaknya kena serangan berulang, mengakibatkan kerusakan besar dan sejumlah pekerja luka-luka. Militer Kuwait menyatakan telah mencegat sejumlah rudal balistik dan drone Iran, tapi sebagian jelas menembus pertahanan.
Shuaiba Utara sendiri bukan fasilitas sembarangan. Pembangkit sekaligus unit desalinasi terpadu ini berada di kawasan industri Shuaiba, Provinsi Al-Ahmadi, sekitar 40 kilometer selatan Kota Kuwait. Satu dari enam pembangkit listrik utama milik pemerintah Kuwait, perannya dalam memenuhi kebutuhan listrik dan air bersih sangat vital, terutama di negara yang nyaris tidak punya sumber daya air alami. Kehilangannya agaknya akan terasa panjang.
Di Bahrain, IRGC mengklaim menyerang lokasi berkumpulnya pesawat tempur AS di Pangkalan Udara Sheikh Isa, sekaligus menghantam pusat data intelijen di negara tersebut. Yordania punya cerita tersendiri: televisi pemerintah Iran melaporkan serangan ke pangkalan militer AS di Al Azraq yang diklaim menghancurkan sedikitnya dua jet tempur AS dan tiga pesawat lainnya. Reuters belum bisa memverifikasi klaim ini secara independen. Di Arab Saudi, sistem peringatan dini sempat meminta warga di Al-Kharj dan Yanbu berlindung, dipicu serangan rudal Iran yang disebut sebagai yang pertama menyentuh wilayah kerajaan dalam lebih dari tiga bulan terakhir.
Iran tegas menyebut semua ini pembalasan yang setimpal. IRGC mengeluarkan pernyataan bahwa serangan itu respons atas gempuran udara AS yang menargetkan jembatan, pembangkit listrik, dan infrastruktur di dalam wilayah Iran. "Dalam situasi ketika tidak ada lembaga internasional yang mampu menghentikan kebrutalan militer Amerika Serikat, kami tidak memiliki pilihan selain menjalankan perintah Al-Qur'an, yakni membalas serangan dengan cara yang setimpal," demikian pernyataan IRGC, sekaligus memperingatkan seluruh sekutu AS di kawasan agar bersiap menghadapi serangan lanjutan.
Kementerian Kesehatan Iran menyebut serangan udara AS selama tiga pekan terakhir telah menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya. Di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, gempuran Sabtu dini hari saja menewaskan tiga orang dan melukai delapan lainnya, merusak dua jembatan dan satu terowongan. Fasilitas listrik dan desalinasi di Kota Jask juga dilaporkan luluh lantak, membuat sekitar 10.000 warga di 20 desa kehilangan akses air bersih sebelum pemerintah menggelontorkan bantuan darurat. Masif.
CENTCOM menyatakan telah menyelesaikan operasi serangan hari ketujuh, menghantam fasilitas pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran. AS juga menyatakan tengah memberlakukan blokade laut terhadap Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menuding Washington berupaya menguasai Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pasar energi global tidak tinggal diam. Harga minyak sudah melonjak lebih dari 4% pada Jumat (17/7), menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sebulan, dihajar kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk. Pertanyaannya, berapa lama Selat Hormuz bisa tetap terbuka? Kalau eskalasi ini berlanjut dan jalur itu benar-benar tersumbat, angka 4% itu baru pemanasan.