RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Buka Pintu ke Mesir, Kirim Pesan Keras ke AS...

Internasional

Iran Buka Pintu ke Mesir, Kirim Pesan Keras ke AS dari Podium Islam

Menlu Iran Abbas Araghchi menyerukan pemulihan hubungan dengan Mesir dan penguatan diplomasi Muslim di Konferensi Persatuan Islam ke-40, sekaligus memperingatkan bahwa aset militer AS di kawasan bisa menjadi sasaran.

🗣️ Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi says Tehran seeks stronger political and economic ties with Muslim countries, especially neighbors http://v.aa.com.tr/4040697

Dari podium Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-40 di Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan dua pesan sekaligus: satu yang terasa hangat, satu lagi yang terasa seperti peringatan.

Kepada dunia Islam, Araghchi menawarkan tangan terbuka. Kepada Amerika Serikat, ia mengingatkan bahwa pangkalan militer Washington di seluruh kawasan, di negara manapun letaknya, bisa menjadi sasaran jika AS kembali menyerang Iran. "Pasukan kami akan menyerang target AS mana pun di kawasan ini selama masa perang, baik itu pangkalan AS, fasilitas, maupun titik kumpul pasukan mereka," tegas Araghchi dalam pernyataan yang ia unggah sendiri melalui akun Telegram-nya, Jumat (28/8).

Tapi peringatan itu bukan headline utama yang ingin ia bawa pulang dari konferensi ini.

Araghchi memilih memulai dengan diplomasi. Iran, katanya, tengah mendorong penguatan hubungan politik sekaligus ekonomi dengan negara-negara Muslim, terutama yang berbatasan langsung dengan Teheran. Pendekatan ini ia bingkai dalam satu kata: persatuan. "Pendekatan kami terhadap dunia Islam didasarkan pada persatuan," ujarnya.

Yang paling menyedot perhatian adalah sinyal yang dikirim ke Kairo. Iran dan Mesir sudah lama berada dalam hubungan yang, kalau boleh jujur, lebih dingin dari sekadar renggang. Araghchi secara eksplisit menyebut tidak ada alasan bagi kedua negara untuk terus berselisih, dan Teheran siap memulihkan hubungan kapan pun Kairo mengambil langkah serupa. "Kapan pun teman-teman kami di Mesir mengambil keputusan dan siap untuk memulihkan hubungan, kami pun akan siap," katanya, dalam nada yang terasa lebih seperti undangan ketimbang tuntutan.

Soal Lebanon, nadanya agak berbeda. Araghchi menyatakan Iran ingin menjaga hubungan dengan seluruh faksi politik di Beirut dan siap mengembangkan kerja sama dengan pemerintah di sana. Namun ia mengakui ada sejumlah perbedaan pandangan dengan kebijakan Beirut saat ini, dan berharap Kementerian Luar Negeri Lebanon menunjukkan, meminjam istilahnya, "rasionalitas yang lebih besar." Kalimat itu agaknya cukup untuk dibaca sebagai kritik halus, bak pesan yang dikirim tanpa perlu berteriak.

Cakupan diplomasi Araghchi tidak berhenti di Timur Tengah. Ia juga mendorong perluasan hubungan dengan negara-negara Afrika yang selama ini sudah berjalan cukup baik. Teheran, dalam narasi yang dibangun Araghchi, memposisikan diri sebagai kekuatan yang ingin terhubung dengan seluruh dunia Muslim, bukan hanya tetangga dekatnya.

Pernyataan soal militer AS jelas bukan slip of tongue. Araghchi menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai "agresi yang tidak sah", sementara respons militer Teheran ia labeli "pembelaan diri yang sah." Ia secara spesifik mengklaim Iran menargetkan posisi dan aset militer AS di kawasan sebagai balasan atas serangan Washington, bukan menyasar negara-negara Muslim ataupun tetangganya. Distingsi itu tampaknya disengaja untuk meredakan kekhawatiran negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan Washington.

Dua sinyal dari Teheran ini perlu dibaca bersamaan. Diplomasi yang hangat ke sesama negara Muslim bisa jadi fondasi stabilitas regional, kalau data ini bisa dipercaya sebagai niat tulus dan bukan sekadar manuver. Ancaman terhadap aset militer AS? Pengingat keras bahwa eskalasi belum benar-benar keluar dari meja.