JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Bentuk Otoritas Baru Selat Hormuz, AS Ancam P...

Internasional

Iran Bentuk Otoritas Baru Selat Hormuz, AS Ancam Paksa Buka

Iran membentuk otoritas baru pengatur Selat Hormuz sekaligus menyiapkan pungutan bagi kapal yang melintas. Washington memperingatkan militernya bisa turun tangan jika jalur strategis itu tak segera dibuka.

Iran bentuk otoritas baru Selat Hormuz - ANTARA News Kalimantan Selatan

Selat Hormuz kini punya "tuan rumah" baru. Iran secara resmi mengumumkan pembentukan otoritas khusus untuk mengelola jalur pelayaran tersebut, sebuah langkah yang agaknya dirancang bukan sekadar untuk mengatur lalu lintas, melainkan untuk mengunci posisi tawar Teheran saat tekanan internasional makin menghimpit.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan pada Senin (18/5) bahwa mereka akan secara aktif memperbarui informasi operasi di Selat Hormuz lewat platform X. Belum ada penjelasan soal struktur maupun kewenangan lembaga baru ini, dan ketidakjelasan itu sendiri bisa jadi disengaja.

Beberapa hari sebelumnya, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi sudah lebih blak-blakan. Ia menyebut Iran telah menyiapkan mekanisme pengaturan lalu lintas maritim melalui jalur tertentu di selat tersebut, lengkap dengan pungutan atas "layanan khusus" yang akan diberikan. Hanya kapal komersial dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang bakal menikmati fasilitas ini. Mereka yang berpartisipasi dalam Project Freedom, inisiatif AS untuk mengawal kapal-kapal menembus blokade, masuk daftar hitam.

Iran bahkan dilaporkan sedang meluncurkan platform asuransi maritim digital, termasuk opsi pembayaran menggunakan Bitcoin, untuk kapal-kapal yang memilih jalur "aman" versi Teheran. Bukan skema yang sederhana.

Sedikitnya 30 kapal dilaporkan telah melintasi selat tersebut sejak Rabu malam (13/5) di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran. Data Marine Traffic mencatat setidaknya empat kapal yang terafiliasi dengan China melewati koridor itu dalam 24 jam terakhir.

China, justru di sinilah variabel yang paling krusial. Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara terbuka menyebut Beijing berkepentingan jauh lebih besar ketimbang Washington untuk membuka kembali selat ini, mengingat sekitar 10% impor minyak China berasal dari Iran dan lebih dari separuhnya dari kawasan Timur Tengah. "Sangat penting bagi mereka untuk membuka kembali selat tersebut. Saya pikir mereka akan bekerja di balik layar sejauh siapa pun memiliki pengaruh terhadap kepemimpinan Iran," kata Bessent. Dalam pertemuan puncak Trump-Xi di Beijing, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin sepakat Hormuz harus tetap terbuka, dengan Xi secara khusus menegaskan penolakan terhadap militerisasi selat dan segala upaya mengenakan biaya tol atas penggunaannya.

Dari Washington, Menteri Energi AS Chris Wright mematok target cukup spesifik: selat itu diperkirakan buka kembali paling lambat akhir musim panas, alias sekitar Agustus-September 2026. Wright juga memperingatkan bahwa jika Iran terus "menyandera ekonomi dunia," militer AS siap memaksakan pembukaan tersebut, sekalipun ia mengakui itu bukan opsi yang mudah.

Tekanan dari Eropa pun datang. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menegaskan selat ini harus dibuka tanpa pungutan atau pembatasan diskriminatif dalam bentuk apapun. Alasannya jelas: kemakmuran global, bukan hanya kawasan Mediterania dan Teluk, bergantung pada kebebasan navigasi di sana.

Sementara diplomasi masih berlangsung, data cadangan minyak dunia sudah bercerita hal lain. Dari level tertinggi dalam satu dekade di sekitar 8 miliar barel pada akhir Februari, persediaan global tergerus ke 7,8 miliar barel di akhir April, menurut perkiraan bank Swiss UBS. JPMorgan memproyeksikan angka itu bisa amblas ke 6,8 miliar barel pada September jika Hormuz masih terkunci. Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan Natasha Kaneva mengibaratkan kondisi ini seperti tekanan darah: sistem tidak kolaps karena minyak habis, melainkan karena volume kerja dalam jaringan sirkulasi tidak lagi mencukupi. IEA sudah memperingatkan harga minyak dan bahan bakar kemungkinan lebih tinggi menjelang puncak permintaan musim panas.

Krisis ini bermula dari serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang dibalas Teheran dengan menutup selat. Gencatan senjata mulai berlaku 8 April lewat mediasi Pakistan, tapi perundingan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen. AS memberlakukan blokade laut sejak 13 April, dan Project Freedom yang dijanjikan Trump akhirnya ditangguhkan. Pertanyaannya sekarang: siapa yang berkedip lebih dulu sebelum September tiba?