Sabtu pagi itu Kuwait tidak tenang. Sirene serangan udara meraung kencang, pasukan militer berjibaku mencegat rudal dan drone yang meluncur dari arah Iran, sementara Kuwait Airways membekukan seluruh penerbangan demi keselamatan.
Semua ini bermula sehari sebelumnya. Jumat malam (17/7), pasukan Amerika Serikat menggempur fasilitas desalinasi air di Desa Bunji, Provinsi Hormuzgan, Iran Tenggara. Pasokan air minum ke sekitar 20 desa pesisir dengan populasi sekitar 10.000 orang langsung lumpuh. CEO perusahaan air dan limbah Hormuzgan menyebut kondisi sudah masuk kategori darurat. "Desa-desa ini menghadapi krisis kekurangan air," katanya, seperti dikutip Anadolu dari kantor berita Tasnim.
Teheran tidak menunggu lama. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pihaknya menyerang dermaga pendukung bahan bakar armada AS di pelabuhan Al Ahmadi, sekaligus menghancurkan pusat sinyal dan telekomunikasi Amerika di Kuwait. Kebakaran pun menyambar salah satu komponen pembangkit listrik dan pabrik desalinasi Kuwait. Masif. Kementerian setempat terpaksa memutus sejumlah unit pembangkit untuk menjaga keselamatan fasilitas dan para pekerja.
Kuwait bergerak cepat mengaktifkan skema darurat. Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan memastikan jaringan listrik dan pasokan air tetap beroperasi, dengan pemantauan teknis yang berjalan sepanjang waktu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyerang balik lewat media sosial. Ia mengecam apa yang disebutnya "serangan ilegal" AS terhadap infrastruktur sipil, dan mengklaim setidaknya delapan orang tewas, termasuk dua penyandang disabilitas. "Beginilah cara Amerika Serikat mencoba memamerkan apa yang disebut kekuatannya, dengan menyerang infrastruktur sipil dan membunuh warga sipil," tulis Baghaei. Klaim korban ini, kalau data lapangan bisa dipercaya, belum bisa diverifikasi secara independen.
Adapun CENTCOM sudah lebih dulu mengumumkan operasi serangan tujuh malam berturut-turut terhadap Iran resmi berakhir pada 17 Juli pukul 21.30 ET. Serangan ke Hormuzgan, dengan kata lain, bukan pembuka babak baru, melainkan salah satu babak penutup dari rangkaian operasi itu. Iran agaknya tidak membaca pengumuman itu sebagai sinyal deeskalasi.
Selat Hormuz tetap menjadi titik api dari semua ini. Jalur laut yang mengontrol sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu sudah berminggu-minggu jadi medan perang urat saraf antara Washington dan Teheran. Kuwait, tuan rumah bagi sejumlah fasilitas militer AS, kini ikut kena tampar dari perseteruan dua raksasa itu.