Dua bulan setelah MoU gencatan senjata ditandatangani di Doha, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat belum benar-benar reda. Juru Bicara Militer Iran Brigjen Mohammad Akraminia kembali mengeluarkan peringatan keras: jika Washington salah perhitungan, perang berikutnya bisa jauh lebih luas dari yang sudah-sudah.
Kepada kantor berita Mehr, Rabu (26/8/2026), Akraminia secara eksplisit menyebut Selat Bab al-Mandab dan pangkalan militer AS di Suriah sebagai wilayah yang sudah masuk dalam cakupan konflik, meski keduanya semula berada di luar area pertempuran langsung. "Perang yang mungkin terjadi di masa depan dapat meluas ke arena-arena baru," tegasnya. Yang lebih mengkhawatirkan, dia membuka kemungkinan infrastruktur energi dan jalur komunikasi bawah laut di perairan Teluk Oman dan Semenanjung Arab bisa menjadi sasaran sah jika terjadi agresi baru. Bukan ancaman kecil.
Konflik Iran-AS meletus sejak 28 Februari, dipicu serangan gabungan militer AS dan Israel. Iran membalas dengan menyerang posisi militer Amerika di sejumlah titik, termasuk operasi udara ke pangkalan AS di Qatar pada 2 Maret. Dua Sukhoi Iran berhasil menyerang sebelum akhirnya ditembak jatuh dalam perjalanan kembali. Dari empat pilot yang terlibat, hanya jenazah Majid Kazemi yang berhasil ditemukan; tiga lainnya masih dinyatakan hilang. Akraminia mendesak Qatar mempercepat penelusuran nasib ketiga pilot tersebut, klaim yang dibantah Doha.
Pertempuran akhirnya mereda setelah Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni dengan mediasi Qatar dan Pakistan. Tapi kesepakatan itu agaknya lebih rapuh dari yang terlihat di atas kertas. Iran menuding AS tidak sepenuhnya menjalankan isi MoU, sementara upaya diplomatik kedua mediator terus berjalan di belakang layar.
Narasi kemenangan moral tengah dibangun dengan serius di dalam negeri. Dalam acara peringatan di Provinsi Golestan, Brigadir Jenderal Hosseini dari Korps Nainawa berbicara di hadapan massa dengan nada yang jauh dari defensif. Perang, menurutnya, justru telah memperlihatkan jarak antara klaim keunggulan militer Amerika dan kenyataan di medan. "Amerika selama ini mengatakan berbagai pilihan tersedia di atas meja, salah satunya pilihan militer. Namun sekarang kartu Amerika dalam bidang militer telah terbuka dan kekuatan sebenarnya telah terlihat oleh dunia," ujar Hosseini.
Apakah klaim itu akurat, tentu bisa diperdebatkan. Pentagon mencatat total korban militer AS dalam konflik ini mencapai 776 orang. Angka yang tidak ringan bagi Washington. Laporan NBC menyebut kerugian infrastruktur dan operasional AS di kawasan Asia Barat tembus miliaran dolar.
Hosseini juga menekankan persatuan internal Iran sebagai kekuatan penyangga. Persatuan antarsuku dan antarmazhab, menurutnya, bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan strategis. "Iran adalah titik temu seluruh rakyat, suku dan mazhab," ujarnya, seraya menyebut dukungan rakyat kepada angkatan bersenjata sebagai faktor penentu dalam menghadapi tekanan eksternal.
Yang membikin situasi ini pelik bagi pasar global: konflik ini menyeret kalkulasi jauh melampaui dua negara. Selat-selat kritis, jalur pipa energi, kabel komunikasi bawah laut di kawasan Teluk, semuanya kini masuk radar militer Iran. Pertanyaannya, berapa lama MoU ini bisa menahan tekanan? Bagi investor yang terekspos ke sektor energi atau emiten dengan rantai pasok melewati kawasan Teluk, perkembangan beberapa pekan ke depan layak dicermati lebih dari sekadar sebelah mata.