Perang kata antara Washington dan Teheran kembali menajam. Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref, lewat akun resminya di platform X, memperingatkan warga Amerika untuk mulai menimbun minyak karena "bulan-bulan gelap" tengah menanti perekonomian AS, seiring eskalasi militer yang belum menunjukkan tanda-tanda reda.
Aref tidak main-main. Ia menegaskan serangan-serangan terbaru AS telah mengubah kalkulasi keamanan Teheran secara fundamental. "Kejahatan baru Amerika terhadap bangsa Iran telah mengubah persamaan keamanan dan doktrin pertahanan kami. Mulai saat ini, respons kami akan bersifat asimetris, berlapis-lapis, dan merampas rasa aman dari pihak pengagresi," tulis Aref di platform X. Bukan sekadar gertakan. Iran duduk di tepi jalur pelayaran paling krusial di planet ini, dan semua orang tahu itu.
Selat Hormuz, tempat sekitar seperlima konsumsi minyak dunia berlalu setiap harinya, sudah terganggu sejak konflik bersenjata antara kedua negara pecah pada Februari 2026. Harga minyak mentah global merespons dengan melonjak ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Trump memang pernah sesumbar bahwa AS tidak bergantung pada ekspor minyak dari selat sempit itu. Pasar agaknya tidak sepenuhnya percaya.
Di seberang meja, Trump memilih nada konfrontatif. Berbicara kepada awak media di Oval Office, ia secara terbuka menyinggung kemungkinan serangan ke Pickaxe Mountain, fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang terletak tidak jauh dari kompleks pengayaan uranium Natanz yang kini sudah rusak parah. "Kita sudah berjalan lima bulan sekarang. Dan Anda tahu apa yang telah kita lakukan? Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Jika terdapat aktivitas mencurigakan di Gunung Pickaxe, kita mungkin akan menghantamnya dalam waktu dekat," ujar Trump. Fasilitas itu digambarkan sebagai benteng bawah tanah dengan sistem terowongan sangat dalam. Intelijen Israel, menurut laporan The Wall Street Journal, meyakini Iran telah memindahkan ribuan mesin sentrifugal ke sana agar terlindung dari bom konvensional.
Korban jiwa sudah berjatuhan. Kementerian Kesehatan Iran mengonfirmasi sedikitnya 18 orang tewas, termasuk empat tamu di sebuah acara pernikahan di wilayah Sirik, serta lebih dari 140 orang luka-luka sejak AS melanjutkan pemboman awal pekan ini. Mehr melaporkan enam personel Angkatan Laut Iran gugur dalam serangan di kawasan selatan, sementara Tasnim menyebut tiga pilot angkatan udara juga kehilangan nyawa.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi gelombang serangan terbaru menyasar instalasi pertahanan udara, sistem radar, aset maritim, kemampuan penanaman ranjau, hingga situs komunikasi milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Semua itu, kata Washington, adalah respons atas percobaan IRGC menyerang kapal-kapal komersial dan personel militer AS di Selat Hormuz. Trump bahkan mengklaim pasukan AS berhasil memusnahkan instalasi radar canggih Iran dua kali berturut-turut. Teheran berbalik menuding AS melanggar kedaulatan dan menargetkan infrastruktur sipil, seraya mengumumkan "serangan defensif balasan" terhadap pangkalan militer AS di Asia Barat.
Konflik ini bukan muncul dari ruang hampa. Hubungan AS-Iran sudah membusuk sejak Washington menarik diri dari JCPOA pada 2018 dan mengencangkan kembali sanksi ekonomi ke Teheran. Lima bulan terakhir hanyalah titik didih dari bara yang sudah membara berdekade-dekade. Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah ketegangan ini akan merembet ke pasar energi global, melainkan seberapa dalam rembesan itu akan terasa.