Sepanjang Januari hingga pertengahan Mei 2026, cuma satu perusahaan yang berani melantai di Bursa Efek Indonesia: PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April lalu, dengan dana yang dihimpun sekitar Rp300 miliar. Angka yang terasa pahit kalau dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika 13 emiten baru sudah masuk bursa dalam lima bulan pertama.
Kondisi IHSG yang sempat amblas ke 6.398 jelas tidak membantu. Capital outflow investor asing masih berlangsung, sentimen pasar tertekan. Wajar kalau calon emiten berpikir dua kali soal waktu IPO.
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik tidak menampik situasi ini memengaruhi kalkulasi perusahaan. "Dalam kondisi pasar seperti ini, mungkin ada pertimbangan tambahan terkait pricing yang optimal, apakah IPO-nya bisa terserap dengan baik oleh pasar atau tidak," kata Jeffrey di Gedung BEI, Senin (18/5/2026). Keputusan akhir, tegasnya, ada di tangan manajemen perusahaan dan penjamin emisi masing-masing.
Meski begitu, Jeffrey tidak bergeser dari target. BEI tetap membidik 50 perusahaan baru melantai di 2026, hampir dua kali lipat realisasi 2025 yang hanya 26 emiten. Per 30 April 2026, ada 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham. Mayoritas bukan pemain kecil: 11 perusahaan berkategori aset besar di atas Rp250 miliar, empat sisanya masuk skala menengah antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tidak ada satu pun perusahaan beraset kecil dalam antrean ini.
Dari sisi sektoral, kesehatan, konsumer siklikal, dan konsumer non-siklikal masing-masing menyumbang tiga nama. Infrastruktur dan teknologi menyusul dengan dua perusahaan, sedangkan energi dan keuangan masing-masing satu. BEI juga membidik enam emiten kategori lighthouse, yaitu perusahaan dengan kapitalisasi aset di atas Rp3 triliun dan nilai penawaran minimal Rp700 miliar.
Nah, ada satu detail yang cukup bikin penasaran. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, dalam konferensi pers Selasa (19/5/2026), menyebut salah satu kandidat IPO bergerak di sektor hiburan dengan nilai emisi tiga kali lipat dibanding calon emiten hiburan lain di pipeline. "Bukan production house, tapi itu terkait dengan yang secara riil dapat kita nikmati entertainment-nya. Ada kebun binatangnya," ungkap Nyoman.
Kalimat itu cukup untuk membuat pelaku pasar sibuk menebak-nebak. Nama yang paling ramai beredar adalah RANS Entertainment milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, yang memang tengah menggarap kebun binatang di kawasan PIK 2, Kabupaten Tangerang. Raffi sendiri pernah bicara terbuka soal rencana ini. "Targetnya kita mau IPO. Sabar saja, kita lagi memperkuat infrastrukturnya," kata Raffi selaku President Commissioner RANS Entertainment, beberapa waktu lalu.
BEI tidak mengonfirmasi nama perusahaan secara eksplisit. Tapi sinyal dari Nyoman, agaknya, cukup terang bagi siapa pun yang mau membaca.
Satu hal yang konsisten disampaikan manajemen bursa adalah soal kualitas di atas kuantitas. Nyoman mencatat hampir 85% dari 957 emiten tercatat sudah menyerahkan laporan keuangan, dengan pertumbuhan laba bersih rata-rata 21,5%. Masif. Secara fundamental, kondisi pasar modal Indonesia masih menarik, meski permukaan tampak bergejolak.
Pertanyaan yang relevan buat investor ritel sekarang sederhana: kalau pipeline didominasi perusahaan besar dengan fundamental solid, dan salah satunya emiten hiburan yang berpotensi menarik perhatian publik luas, apakah koreksi IHSG saat ini justru menawarkan entry point yang lebih masuk akal ketimbang menunggu sentimen membaik?