Belum resmi diumumkan, iPhone Ultra sudah bikin keramaian di dua sisi sekaligus: sisi produksi Apple yang agresif, dan sisi pasar mewah yang tidak mau ketinggalan momentum.
Apple disebut telah menaikkan target produksi iPhone Ultra, ponsel lipat perdananya, menjadi sekitar 10 juta unit sepanjang 2026. Naik sekitar 30 persen dari proyeksi awal yang berkisar 7 hingga 8 juta unit. Nikkei Asia melaporkan Apple sudah memberi sinyal kepada para pemasok untuk bersiap dengan kapasitas baru tersebut. Kenaikan ini bukan sekadar angka di atas kertas, eh, bukan sekadar angka. Ini sinyal bahwa kendala manufaktur yang sempat menghantui pengembangan iPhone Ultra, terutama pada mekanisme engsel, agaknya sudah mulai bisa diatasi.
Soal harga, bersiaplah. IDC memperkirakan harga jual rata-rata iPhone Ultra menyentuh sekitar US$2.500 atau setara Rp40,5 juta. Varian penyimpanan lebih besar diprediksi tembus US$3.000, sekitar Rp48,6 juta. Angka yang menempatkan iPhone Ultra jauh di atas iPhone 18 Pro Max dan hampir semua ponsel lipat Android premium yang kini beredar. Analis Ming-Chi Kuo sudah memperingatkan lebih jauh: keterbatasan stok awal berpotensi dimanfaatkan reseller untuk menjual perangkat dengan markup 50 hingga 100 persen dari harga resmi. Setidaknya itu perkiraan Kuo, dan rekam jejaknya di soal Apple jarang meleset jauh.
Kuo memperkirakan pengiriman iPhone Ultra baru dimulai pada kuartal IV 2026, beberapa waktu setelah peluncuran resmi di September yang dijadwalkan bersamaan dengan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Jeda antara peluncuran dan ketersediaan ini murni soal kapasitas produksi yang belum bisa langsung memenuhi permintaan. Bukan main antusiasnya.
Dari sisi spesifikasi, bocoran yang beredar menyebut iPhone Ultra akan mengusung desain lipat bergaya buku dengan layar OLED utama 7,76 inci dan layar cover 5,49 inci. Chip yang digunakan diperkirakan A20 Pro, dipadukan RAM 12 GB dan baterai 5.500 mAh. Yang bikin alis naik: Apple kabarnya meninggalkan Face ID pada perangkat ini dan beralih ke Touch ID terintegrasi di tombol daya. Konfigurasi kamera pun diprediksi hanya dua lensa tanpa telefoto khusus. Kompromi yang lumayan berani, kalau dipikir-pikir, mengingat banderol harganya.
Sementara Apple masih diam, Caviar sudah bergerak. Perusahaan kustomisasi mewah asal Rusia itu merilis koleksi yang mereka sebut "The Flagship", empat varian iPhone lipat konseptual yang mengacu pada bocoran desain iPhone Ultra. Setiap varian diproduksi hanya 19 unit di seluruh dunia. Varian paling terjangkau, Titanium, dibanderol US$13.840 atau sekitar Rp225 juta, dengan bodi titanium berlapis PVD hitam dan kulit buaya. Di puncak koleksi, varian Gold bertengger di harga US$15.560, sekitar Rp253 juta, dengan serat karbon yang ditenun benang emas, bingkai berlapis emas 24 karat, dan logo Apple dari emas 18 karat. Caviar menyebut edisi Gold ini sebagai penghormatan atas perayaan 50 tahun Apple.
Perlu diingat, seluruh koleksi Caviar ini bukan produk resmi Apple, dan pengiriman baru dilakukan setelah iPhone Ultra asli resmi meluncur. Caviar sendiri mengaku menggunakan bocoran rantai pasok dan render yang beredar di internet sebagai referensi desain, bukan informasi dari Apple langsung.
Di luar hiruk-pikuk Caviar, gambaran besar produksi Apple 2026 juga layak dicermati. Total produksi iPhone generasi terbaru diperkirakan mencapai sekitar 220 juta unit, dengan sekitar 70 juta unit dialokasikan untuk iPhone 18 Pro dan Pro Max, serta 80 juta unit untuk model lain di paruh kedua tahun ini. Proyeksi IDC sedikit lebih tinggi, mendekati 240 juta unit pengiriman sepanjang 2026. Angka yang tidak main-main.
Pertanyaannya sederhana: apakah 10 juta unit iPhone Ultra cukup untuk memenuhi permintaan yang sudah panas bahkan sebelum produknya ada? Kalau Caviar saja bisa jual konsep di harga Rp253 juta dan orang mau antre, jawabannya bisa jadi sudah ketahuan.