Harga rata-rata ponsel lipat global bakal terkerek tahun ini, dan iPhone Ultra ada di balik sebagian besar kalkulasinya.
Counterpoint Research memproyeksikan average selling price (ASP) segmen foldable akan naik 18% pada 2026, menyentuh $1.485 atau sekitar Rp24,2 juta. Pemicunya bukan karena semua ponsel lipat tiba-tiba mahal. Ini murni efek matematis dari satu produk: iPhone Ultra, yang dibanderol mulai $2.500 hingga $3.000 tergantung konfigurasi. Angka yang tidak main-main, bahkan untuk ukuran segmen premium.
Apple dikabarkan telah menaikkan target produksi iPhone Ultra menjadi 10 juta unit, merespons antusiasme pasar yang di luar perkiraan. Nikkei Asia yang pertama melaporkan pergerakan ini. Dampaknya langsung terasa di rantai pasok: sejumlah pemasok Apple di kawasan Asia bergerak menguat seiring sinyal kenaikan produksi.
Bagi Counterpoint, masuknya Apple ke segmen ini punya implikasi lebih dalam dari sekadar satu produk baru. Firma riset itu menilai iPhone Ultra akan membantu menggeser persepsi ponsel lipat dari gadget eksentrik menjadi kategori produktivitas bernilai tinggi, dengan ekosistem perangkat lunak dan dukungan aplikasi yang kian matang.
Data Counterpoint juga memperlihatkan pergeseran preferensi yang menarik. Meski ponsel lipat model clamshell kian terjangkau berkat membanjirnya pemain baru dan skala produksi massal, konsumen justru lebih banyak memilih form factor model buku. Pengiriman foldable di rentang harga $1.600 hingga $2.000 diproyeksikan hampir dua kali lipat tahun ini, dari 30% porsi pasar pada 2025 menjadi 58% pada 2026. Segmen harga lain bakal menyusut.
"Ponsel lipat, yang diposisikan OEM pada titik harga lebih tinggi dengan margin keuntungan lebih besar untuk menyerap kenaikan biaya komponen, menarik minat para pengadopsi awal dan pengguna premium yang tidak terlalu sensitif terhadap harga dan bersedia membayar untuk produktivitas, efisiensi, dan pengalaman seluler yang lebih kuat," ujar Liz Lee, Associate Director Counterpoint Research. Lee menambahkan bahwa model buku dengan layar lebar akan menawarkan nilai tambah tersendiri sebagai platform multitasking berbasis AI.
Lantas bagaimana posisi pemain lama? Samsung kemungkinan akan berusaha mempertahankan harga Galaxy Z Fold 8 di angka $1.999, sama seperti generasi sebelumnya. Keputusan final baru diumumkan pada 22 Juli mendatang. Kalau harga itu terkonfirmasi, agaknya ini jendela terakhir bagi konsumen yang ingin meminang foldable premium di bawah $2.000 sebelum tren benar-benar bergerak ke atas.
Satu hal patut dicermati: kenaikan ASP 18% bukan berarti setiap produk otomatis naik harga. Itu murni efek agregat dari satu outlier senilai $2.500 yang masuk ke kalkulasi rata-rata pasar. Tapi kalau iPhone Ultra disambut hangat, produsen lain kemungkinan akan menimbang ulang strategi harga mereka. Samsung sudah pasti mengamati.
Bagi investor yang melirik saham pemasok Apple di Asia, pergerakan hari ini agaknya sudah mencerminkan antisipasi terhadap siklus produksi yang berpotensi lebih besar dari biasanya.