KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  iPhone Duo Justru Dongkrak Penjualan Samsung Fold8...

Tekno

iPhone Duo Justru Dongkrak Penjualan Samsung Fold8, Google Santai Saja

Kehadiran iPhone Duo malah memantik minat konsumen Korea Selatan membeli Galaxy Z Fold8 lebih cepat, sementara Google menyambut Apple masuk arena foldable dengan senyuman tipis.

IPhone duo vs galaxy Z Fold 8

Setelah Apple memperkenalkan iPhone Duo, yang terjadi di Korea Selatan bukan perpindahan massal ke kubu Cupertino. Justru sebaliknya, penjualan Samsung Galaxy Z Fold8 tercatat naik sekitar 10 persen dalam satu minggu setelah pengumuman itu dibandingkan pekan sebelumnya.

Logikanya sederhana. Konsumen yang selama ini menunda beli ponsel lipat akhirnya punya alasan untuk memutuskan, dan banyak dari mereka ternyata memilih yang sudah tersedia di toko. iPhone Duo baru masuk masa pre-order pada 16 Oktober, artinya belum bisa dipegang siapapun ketika angka penjualan Fold8 mulai bergerak naik.

Satu faktor lain yang agaknya cukup menentukan: harga. Di Korea Selatan, Galaxy Z Fold8 varian 256 GB dibanderol sekitar 2,28 juta won, sementara iPhone Duo versi yang sama dipatok 3,29 juta won. Selisihnya sekitar 1,01 juta won, atau setara Rp12 jutaan lebih. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Tentu, data ini baru cerminan pasar Korea Selatan, kandang Samsung sendiri. Memaknainya sebagai sinyal perpindahan pengguna iPhone ke Android jelas terlalu jauh. Tapi tetap menarik bahwa pengumuman produk Apple justru menggerakkan penjualan kompetitor langsung.

Apple memperkenalkan iPhone Duo sebagai perangkat lipat dengan layar utama 7,6 inci, ditenagai chip A20 Pro berarsitektur 2 nanometer. CEO Apple John Ternus menyebutnya sebagai "perubahan paling transformatif pada iPhone sejak iPhone generasi pertama." Klaim besar. Harga pun tidak main-main: mulai 1.999 dolar AS atau sekitar Rp32 jutaan.

Dari kubu Android, respons yang datang justru terasa tenang, bahkan antusias. Presiden Android Ecosystem Google, Sameer Samat, menyambut langkah Apple masuk segmen foldable bukan dengan nada defensif, melainkan seperti orang yang sudah lama tahu ini akan terjadi. "Sangat menyenangkan melihat lebih banyak orang menyadari bahwa ruang foldable adalah tempat yang tepat. Android biasanya adalah tempat Anda melihat masa depan lebih dulu," kata Samat dalam wawancara yang dikutip Tom's Guide.

Samat sendiri mengaku pengguna Galaxy Z Fold8. "Fold 8 adalah perangkat yang luar biasa. Perangkat ini membantu saya menyelesaikan banyak pekerjaan. Saya justru sering memulai produktivitas di perangkat itu, lalu berpindah ke laptop," ujarnya. Pengakuan yang cukup jujur dari orang nomor satu ekosistem Android.

Samsung, di level lebih blak-blakan, sempat menyindir Apple di media sosial tak lama setelah acara September: "Let us know when you're done reheating our leftovers." Masuk akal. Galaxy Fold pertama meluncur 2019, enam tahun sebelum Apple akhirnya mau masuk arena.

Tapi Samat tidak menutup mata terhadap ancaman nyata. Counterpoint Research memperkirakan Apple bisa meraup sekitar 25 persen pangsa pasar foldable global di tahun pertama, lalu melesat menjadi 40 persen pada akhir 2027. Proyeksi yang tidak bisa dianggap enteng, terutama karena sebagian besar didorong kekuatan ekosistem Apple yang sudah terkunci rapat.

Ada segmen besar konsumen yang selama ini tidak membeli foldable Android bukan karena tidak suka form factor-nya, tapi karena tidak mau keluar dari ekosistem Apple. Permintaan yang tertahan bertahun-tahun ini berpotensi meledak begitu iPhone Duo benar-benar tersedia. Pertanyaannya, berapa besar gelombang itu?

Medan pertarungan berikutnya, menurut Samat, ada di optimasi aplikasi. Apple sudah mendorong pengembang, dengan Slack disebut secara khusus sebagai aplikasi yang dioptimalkan untuk layar lipat. Di sisi Android, TikTok berjalan sangat baik di Fold8, sementara aplikasi-aplikasi Google seperti Gmail dan YouTube sudah lama dioptimalkan untuk form factor ini. Samat mengakui masih ada gap yang perlu ditutup. "Entah mereka sedang mengerjakannya, atau kami sedang berbicara dengan mereka, tetapi ada juga ribuan dan ribuan aplikasi yang sudah," katanya.

Ironisnya, Apple bisa menjadi katalis yang justru mempercepat pertumbuhan ekosistem foldable Android. "Saat faktor bentuk ini semakin populer, pengembang menyadari ada semakin banyak nilai untuk berinvestasi," ujar Samat. Buat investor dan pelaku industri, pertanyaan yang lebih relevan mungkin bukan siapa yang menang di segmen ini, melainkan seberapa besar kue foldable akan membesar dalam dua tahun ini. Kalau data ini bisa dipercaya, kedua pihak sama-sama dalam posisi diuntungkan.