Dua kepala negara sekaligus angkat bicara pada Rabu (15/7). Presiden Lithuania Gitanas Nauseda dan Presiden Latvia Edgars Rinkevics merilis pernyataan bersama yang isinya cukup serius: intelijen mereka mendeteksi rencana Rusia untuk menyerang infrastruktur energi dan transportasi di kawasan Baltik maupun Polandia, dan perencanaan itu, kata keduanya, berlangsung di tingkat tertinggi, secara efektif di Moskow.
Nauseda mengakui laporan itu belum menyebutkan waktu atau lokasi spesifik. "Sinyal tersebut tidak mengidentifikasi tempat atau waktu secara jelas karena lawan belum berada di akhir perencanaannya," ungkap Nauseda. Targetnya, kata dia, adalah fasilitas-fasilitas vital: jaringan energi, simpul transportasi, objek-objek yang kalau rusak bisa melumpuhkan sistem secara luas. Sabotase fisik hingga serangan drone masuk dalam skenario yang diwaspadai.
Rinkevics melangkah lebih jauh. Presiden Latvia itu memperingatkan bahwa bahkan tanpa kemenangan penuh di Ukraina, Rusia mungkin saja secara tidak langsung mencoba menguji Pasal 5 NATO melalui provokasi terukur di kawasan Baltik. Kalimat itu bukan sekadar retorik.
Peringatan dari Vilnius dan Riga datang dalam konteks yang tidak bisa diabaikan. Lithuania sudah menjadi negara dengan belanja pertahanan tertinggi di seluruh aliansi NATO, mengalokasikan 5,33 persen dari PDB-nya untuk sektor keamanan. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pecah pada 2022, anggaran pertahanan Lithuania melonjak tiga kali lipat. Posisi geografisnya pun tidak menguntungkan: diapit Kaliningrad di barat, eksklave Rusia yang sarat aset militer, dan Belarus di timur, sekutu taat Moskow.
Polandia, yang ikut disebut sebagai target potensial, sudah lebih dulu mewanti-wanti. Akhir Juni lalu, Perdana Menteri Donald Tusk bilang berbagai jenis eskalasi bisa diperkirakan dalam hitungan minggu dan bulan mendatang, dan menyebut situasinya sangat tidak stabil. Pernyataan bersama Lithuania-Latvia kemarin agaknya mengkonfirmasi kekhawatiran yang sama, kali ini dengan dukungan laporan intelijen yang lebih konkret.
Moskow, seperti biasa, menolak mentah-mentah. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut klaim Lithuania sebagai narasi lama yang sengaja dihidupkan kembali. "Ini justru serangkaian cerita horor baru untuk terus mencuci otak dan mempersiapkan penduduk untuk militerisasi lebih lanjut," kata Peskov kepada wartawan di Moskow. Negara-negara Baltik, tudingannya, sengaja membangun citra Rusia sebagai musuh demi menarik lebih banyak aset militer Barat ke perbatasan mereka.
Peskov juga menyinggung konflik Ukraina. Rusia, katanya, masih menerima sinyal bahwa Washington bersedia menjadi mediator, tapi fokus AS kini terbagi akibat situasi di Teluk Persia yang kembali memanas. "Amerika tidak punya waktu untuk penyelesaian Ukraina saat ini karena situasi di kawasan Teluk Persia kembali memasuki fase degradasi," tambah Peskov. Pernyataan itu, entah kebetulan atau tidak, keluar bersamaan dengan penolakan atas tuduhan Lithuania.
Pola ini bukan yang pertama. Para pejabat Baltik dan Polandia sebelumnya sudah mengaitkan Rusia dengan sejumlah insiden nyata: pembakaran, serangan siber, sabotase jalur kereta api. Pertanyaannya, berapa lama peringatan semacam ini cukup hanya ditanggapi dengan kewaspadaan, bukan respons konkret?