Adam Mosseri, Kepala Instagram, pekan ini memperlihatkan sesuatu yang agaknya cukup ambisius: tiga antarmuka baru untuk mengakses fitur Your Algorithm, pengaturan yang memungkinkan pengguna menentukan sendiri jenis konten apa yang ingin mereka lihat lebih banyak atau lebih sedikit.
Your Algorithm sebetulnya bukan barang baru. Instagram sudah meluncurkannya tahun lalu, tapi aksesnya selama ini tersembunyi cukup dalam di menu pengaturan, sehingga tidak banyak pengguna yang benar-benar memanfaatkannya. Yang sedang diuji sekarang bukan fiturnya, melainkan cara menjangkaunya lebih cepat, lebih natural, langsung dari dalam aplikasi.
Tiga metode yang didemonstrasikan Mosseri: menarik layar ke bawah di feed untuk memunculkan menu Your Algorithm, menggeser ke atas dari sebuah Reel untuk mendapat prompt kustomisasi serupa, dan tombol khusus di bawah setiap Reel yang memberi sinyal apakah pengguna ingin melihat lebih banyak konten semacam itu atau tidak. Logikanya sederhana. Semakin dekat kontrol itu dengan konten yang sedang ditonton, semakin besar kemungkinan pengguna benar-benar menyentuhnya.
"Kami ingin mengembangkan Your Algorithm dari sekadar pengaturan menjadi sesuatu yang terasa sentral dalam pengalaman Anda di Instagram," ujar Mosseri dalam unggahannya. Ia juga jujur soal status fitur ini: sebagian sedang diuji sekarang, sebagian akan segera hadir, dan sebagian lagi bisa jadi tidak lolos.
Nah, justru di sini letak ironinya. Instagram sibuk merancang cara supaya pengguna lebih mudah mengelola preferensi konten, sementara komentar-komentar paling banyak disukai di unggahan Mosseri semuanya mengarah ke permintaan yang jauh lebih mendasar. Salah satu yang paling mencolok, ditulis dengan huruf kapital semua: "KAMI HANYA INGIN ALGORITMA KAMI MENAMPILKAN ORANG-ORANG YANG KAMI IKUTI."
Keluhan ini sudah lama berputar-putar di ekosistem Instagram. Bertahun-tahun pengguna merasa feed mereka dibanjiri konten dari akun yang tidak mereka ikuti, baik Reels viral, rekomendasi acak, maupun postingan yang didorong algoritma. Your Algorithm menawarkan kontrol atas topik, tapi bagi banyak pengguna, masalah intinya bukan soal topik. Melainkan soal siapa. Mereka ingin melihat konten dari akun yang memang mereka pilih untuk diikuti, bukan dari akun yang dianggap relevan oleh mesin rekomendasinya.
Dilihat dari sisi lebih luas, langkah ini sejalan dengan tekanan yang kian kencang terhadap platform media sosial untuk membuka cara kerja algoritmanya. TikTok, YouTube, bahkan X sudah mulai menggelar lapisan-lapisan kontrol serupa. Instagram tidak mau ketinggalan.
Bagi kreator konten, integrasi Your Algorithm yang lebih dalam ke aplikasi bisa jadi sinyal menarik, kalau data ini bisa dipercaya. Semakin aktif pengguna membentuk preferensi mereka, semakin terang peta konten apa yang benar-benar dikonsumsi secara sadar, bukan sekadar karena lewat di depan layar.
Belum ada tanggal pasti kapan semua ini bergulir ke seluruh pengguna. Instagram biasanya merilis inovasi secara bertahap lewat A/B testing, jadi tidak semua akun akan melihatnya bersamaan. Pertanyaan yang lebih menggigit bukan kapan fiturnya rilis, tapi apakah Instagram akhirnya mau benar-benar mendengar apa yang sudah bertahun-tahun diminta penggunanya.