SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Inggris Tuding IRGC Iran di Balik Plot Serangan ke...

Internasional

Inggris Tuding IRGC Iran di Balik Plot Serangan ke Pangkalan Udara AS

PM Inggris Andy Burnham secara resmi menuding Korps Garda Revolusi Islam Iran hampir pasti mendalangi rencana serangan terhadap pangkalan udara RAF Fairford, disusul sanksi terhadap dua warga Iran dan pemanggilan Dubes Teheran.

PM Inggris Tuding Iran di Balik Plot Teror Pangkalan Udara AS - Global

Perdana Menteri Andy Burnham akhirnya berbicara langsung kepada parlemen soal insiden yang mengguncang RAF Fairford, pangkalan udara Inggris yang juga digunakan pasukan Amerika Serikat, dan menunjuk Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai pihak yang hampir pasti berdiri di balik dugaan plot teror itu.

Bukan pernyataan main-main. Burnham, dalam penampilan perdananya di House of Commons sejak insiden terjadi akhir bulan lalu, mengutip penilaian intelijen yang menyimpulkan bahwa serangan "sangat mungkin dikoordinasikan dari Iran" dan "hampir pasti diarahkan" oleh IRGC. Frasa "hampir pasti" bukan bahasa diplomasi biasa dalam kosakata intelijen Inggris. Ini tingkat kepastian tertinggi yang bisa dikutip ke publik.

Whitehall bergerak cepat. Menteri Luar Negeri Ed Miliband memanggil Duta Besar Iran untuk protes formal, dua warga Iran dijatuhi sanksi sebagai respons konkret, dan puluhan negara sekutu, AS di antaranya, meneken pernyataan bersama yang secara eksplisit mengecam aksi hibrida Teheran. Tekanan kali ini, kalau data ini bisa dipercaya, datang lebih terorganisir dari gelombang-gelombang sebelumnya.

"Kami tidak akan menoleransi ancaman semacam ini di wilayah kami," kata Burnham. Ia juga mengancam akan mengerahkan seluruh kewenangan pemerintah untuk membidik jaringan kriminal Iran beserta aliran pendanaannya.

Pernyataan Senin (12/10) itu sebenarnya eskalasi dari sikap Burnham sebelumnya yang hanya menyebut adanya "indikasi kuat keterlibatan Iran". Pergeseran dari "indikasi kuat" ke "hampir pasti" bukan hal sepele. Preseden Inggris menunjukkan bahwa perubahan bahasa sekecil ini kerap mendahului tindakan diplomatik atau hukum yang jauh lebih berat.

RAF Fairford bukan pangkalan sembarangan. Fasilitas di Gloucestershire itu secara rutin dipakai sebagai titik pengerahan aset udara strategis AS di Eropa, termasuk pembom B-2 Spirit. Menjadikannya target bernilai tinggi bagi siapapun yang ingin mengirim pesan ke Washington lewat London.

Bagi pelaku pasar yang memantau risiko geopolitik, eskalasi ini agaknya menambah lapisan ketidakpastian baru di saat tensi Timur Tengah belum juga benar-benar padam. Pertanyaannya sekarang bukan soal apakah sanksi cukup sebagai jawaban, tapi seberapa jauh London bersedia melangkah, mengingat puluhan sekutu kini sudah bergerak bersamanya.